Festival Payung Nusantara Pertama Kali Digelar di Istana Mangkunegaran
Selain itu, Heru Mataya juga berupaya terus mendorong para kreator payung tradisional di semua daerah di Indonesia. Dia berharap, sebelum pagelaran Fespin setiap tahun yang diagendakan pada bulan September, di daerah-daerah sentra produksi payung tradisional diminta menggelar pra-even untuk mendukung puncak even Fespin di Kota Solo.
"Jadi, karena festival payung dicetuskan di Kota Solo, puncak even tetap di Fespin bulan September. Sedangkan dari Januari sampai menjelang September, didaerah-daerah bisa digelar pra-event," tutur Heru lagi, sambil menambahkan, pagelaran Fespin merupakan kerja sama dengan Sankhampaeng Cultural Center, penyelenggara Borsang Umbrella Festival di Chiang Mai Thailand.
Sementara itu, Kurleni Ukar, staf ahli Kemenparekraf, pada pembukaan Fespin, mengungkapkan, Kemenparekraf mendorong agar Fespin dipertahankan dan melibatkan lebih banyak partisipasi masyarakat, khususnya para perajin payung tradisi.
"Kreasi yang saya lihat di sini, yang melibatkan para pengrajin payung tradisi dan kreasi beragam komunitas kreatif pelestari seni tradisi supaya terus dikembangkan. Dengan event ini, kepariwisataan bisa kembali bangkit, ekonomi kreatif bisa tumbuh dan dapat membuka lapangan kerja dengan mendatangkan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik," katanya. @tok
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!