Fasiltas Pendidikan Belum Memadai, Teman Tuli Harus Beradaptasi Sendiri
Keterbatasan fasilitas ini juga dialami oleh Diar yaitu seorang siswa SMK di Bandung. Diar juga mengalami gangguan pendengaran sejak lahir. Ia menceritakan pengalaman sulitnya pada saat bersekolah, terutama ketika masih duduk di bangku SD.
Ia juga kerap mengalami perundungan dari teman temannya karena perbedaannya sebagai seorang Tuli.
Terutama ketika sedang dalam proses belajar, ia sering kali tidak memahami penjelasan guru karena disampaikan secara verbal tanpa dukungan bahasa isyarat. Hal ini menyebabkan banyak miskomunikasi yang terjadi, dan akhirnya membuat ia harus meminta guru untuk mengulangi penjelasan
“Kalua guru lagi ngerjain kadang denger kadang engga, jadi minta bantuan temen atau minta diulang penjelasannya,” ujar Diar, dari rilis yang diterima VISI.NEWS, Sabtu (1/2/2025).
Anne (17) selaku teman Diar mengatakan bahwa minimal kita bisa menggunakan bahasa isyarat agar memebantu mereka untuk berkomunikasi.
“Minimal kita bisa menggunakan bahasa isyarat, karena bisa membantu mereka berkomunikasi.” ujar Anne, dari rilis yang diterima VISI.NEWS, Sabtu (1/2/2025).
Dari sisi tenaga pendidik, ternyata belum semua guru memiliki kemampuan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan siswa Tuli. Keterbatasan ini menjadikan tantangan bagi proses pembelajaran sekolah-sekolah.
Namun, disatu sisi juga seharusnya sekolah dan guru menerima siswa berkebutuhan khusus, akan tetapi di sisi lain, ternyata tidak ada pelatihan yang memadai bagi guru untuk memenuhi kebutuhan mereka, yang akhirnya banyak siswa Tuli yang kesulitan memahami materi karena tidak ada komunikasi yang efektif antara mereka dan juga pengajar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!