Diwisuda Doktor UNAIR, Gus Heri Bawa Pesan Promotor: Ilmu Harus Bertumbuh Menjadi Kemanfaatan
Dari Riset ke Ruang Publik
Bagi Gus Heri, riset tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen akademik.
Kerangka penelitian tentang suksesi dan keberlanjutan organisasi tersebut kemudian digunakan untuk membaca berbagai dinamika aktual, termasuk menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang.
Perspektif tersebut melihat suksesi tidak hanya sebagai pergantian figur, tetapi sebagai proses menjaga kapasitas kepemimpinan, nilai, legitimasi, independensi, dan keberlanjutan organisasi.
Gagasan itu kemudian berkembang melalui dialog di televisi, radio, media massa, serta berbagai tulisan opini.
“Riset tidak semestinya selesai ketika disertasi dipertahankan. Temuan akademik perlu terus diuji relevansinya, diterjemahkan ke dalam bahasa publik, dan dipertemukan dengan persoalan nyata yang berkembang di masyarakat,” katanya.
Ilmu Harus Berdampak
Menurut Gus Heri, dalam ilmu sosial dan manajemen, hilirisasi tidak selalu berbentuk produk. Pengetahuan juga dapat memberikan dampak ketika menjadi perspektif untuk membaca persoalan, memperkaya diskursus publik, dan membantu merespons tantangan organisasi serta masyarakat.
“Setelah sebuah penelitian selesai, ada pertanyaan berikutnya yang harus terus dijawab: siapa yang memperoleh manfaat dari pengetahuan tersebut dan perubahan apa yang dapat ikut dihadirkan di masyarakat,” ujarnya.
Pada momentum wisuda tersebut, Gus Heri menyampaikan terima kasih kepada promotor dan ko-promotor, para guru besar dan dosen, sivitas akademika FEB UNAIR, keluarga, kolega, sahabat, dan rekan seperjuangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!