Diwisuda Doktor UNAIR, Gus Heri Bawa Pesan Promotor: Ilmu Harus Bertumbuh Menjadi Kemanfaatan

ED
Abdul Ghofur
Minggu, 6 September 2026 | 14:30 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS – Momentum Wisuda ke-263 Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi refleksi tersendiri bagi Dr. Heri Cahyo Bagus Setiawan, M.S.M., atau Gus Heri. Setelah menyelesaikan Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, ia membawa satu pesan sederhana dari sang promotor: ilmu harus bertumbuh menjadi kemanfaatan.

Gus Heri mengikuti prosesi wisuda di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C, Surabaya, Sabtu (5/9/2026).

Pesan tersebut diterimanya saat masih dalam perjalanan menuju lokasi wisuda. Sebelum tiba di ACC, Gus Heri menghubungi promotornya, Prof. Indrianawati Usman, untuk memohon doa dan restu.

“Semoga meningkat kemanfaatan Gus Heri dalam meniti perjalanan usia ke depan,” demikian pesan sang promotor.

Bagi Gus Heri, kalimat itu melampaui ucapan selamat atas capaian akademik.

“Pesan itu membekas bagi saya. Pendidikan doktor bukan hanya tentang memperoleh gelar atau menghasilkan pengetahuan baru. Ketika ilmu bertambah, semestinya kemanfaatan juga semakin bertambah,” ujarnya.

Selama menempuh pendidikan doktor, Gus Heri mendapat bimbingan dari Prof. Indrianawati Usman sebagai promotor dan Praptini Yulianti sebagai ko-promotor. Proses akademik tersebut membentuk disiplin ilmiah, ketajaman argumentasi, keterbukaan terhadap kritik, serta tanggung jawab terhadap setiap kesimpulan.

Tradisi Berpikir Ilmiah

UNAIR bukan lingkungan akademik baru bagi Gus Heri. Ia sebelumnya menyelesaikan pendidikan Magister Sains Manajemen di UNAIR pada 2016.

Kembali ke Airlangga pada jenjang doktor semakin memperkuat keyakinannya bahwa tradisi berpikir ilmiah harus dibawa melampaui ruang kampus.

“Berpikir ilmiah bukan hanya tentang teori dan metode penelitian. Ada proses memeriksa argumentasi, terbuka terhadap kritik, melihat persoalan dari berbagai perspektif, serta mempertanggungjawabkan setiap kesimpulan secara akademik,” katanya.

Bagi Gus Heri, wisuda bukan akhir perjalanan keilmuan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengetahuan dan tradisi akademik dapat bertemu dengan persoalan nyata.

Suksesi Kepemimpinan Pesantren

Persoalan tersebut menjadi pijakan penelitian doktoralnya tentang suksesi kepemimpinan dan keberlanjutan pondok pesantren.

Melalui pendekatan multiple-case study, Gus Heri menelaah bagaimana pesantren mampu menjaga keberlanjutan organisasi lintas generasi. Penelitiannya memandang suksesi bukan sekadar pergantian figur, melainkan proses menyiapkan kapasitas kepemimpinan, menjaga nilai, membangun legitimasi, dan memastikan keberlanjutan organisasi.

“Penelitian ini melihat suksesi sebagai sebuah proses, bukan sekadar peristiwa pergantian pemimpin,” ujarnya.

Dari penelitian tersebut lahir Merit–Value–Legitimacy Succession Model (MVL Model) yang menempatkan merit atau kapasitas kepemimpinan, keberlanjutan nilai, dan legitimasi sebagai tiga dimensi yang saling berkaitan.

Disertasi berjudul “Model Proses Suksesi Kepemimpinan untuk Mendukung Keberlanjutan Pondok Pesantren: Studi Multiple-Case Study” dipertahankan dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Doktor Ilmu Manajemen FEB UNAIR pada 25 Juni 2026. Gus Heri dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Dari Riset ke Ruang Publik

Bagi Gus Heri, riset tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen akademik.

Kerangka penelitian tentang suksesi dan keberlanjutan organisasi tersebut kemudian digunakan untuk membaca berbagai dinamika aktual, termasuk menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang.

Perspektif tersebut melihat suksesi tidak hanya sebagai pergantian figur, tetapi sebagai proses menjaga kapasitas kepemimpinan, nilai, legitimasi, independensi, dan keberlanjutan organisasi.

Gagasan itu kemudian berkembang melalui dialog di televisi, radio, media massa, serta berbagai tulisan opini.

“Riset tidak semestinya selesai ketika disertasi dipertahankan. Temuan akademik perlu terus diuji relevansinya, diterjemahkan ke dalam bahasa publik, dan dipertemukan dengan persoalan nyata yang berkembang di masyarakat,” katanya.

Ilmu Harus Berdampak

Menurut Gus Heri, dalam ilmu sosial dan manajemen, hilirisasi tidak selalu berbentuk produk. Pengetahuan juga dapat memberikan dampak ketika menjadi perspektif untuk membaca persoalan, memperkaya diskursus publik, dan membantu merespons tantangan organisasi serta masyarakat.

“Setelah sebuah penelitian selesai, ada pertanyaan berikutnya yang harus terus dijawab: siapa yang memperoleh manfaat dari pengetahuan tersebut dan perubahan apa yang dapat ikut dihadirkan di masyarakat,” ujarnya.

Pada momentum wisuda tersebut, Gus Heri menyampaikan terima kasih kepada promotor dan ko-promotor, para guru besar dan dosen, sivitas akademika FEB UNAIR, keluarga, kolega, sahabat, dan rekan seperjuangan.

Baginya, perjalanan memperoleh ilmu tidak pernah ditempuh seorang diri. Ada guru yang membentuk cara berpikir, lingkungan akademik yang menguji gagasan, keluarga yang menguatkan, dan masyarakat yang menjadi tempat ilmu menemukan relevansinya.

Pesan sang promotor pada pagi menuju wisuda itu pun menjadi benang merah perjalanan akademiknya.

“Toga pada akhirnya akan ditanggalkan. Yang harus tetap tinggal adalah budaya akademik dan tradisi berpikir ilmiah. Dari Airlangga saya belajar bahwa ilmu harus terus diuji, tetapi pesan guru saya pagi ini mengingatkan satu hal lagi: ilmu juga harus menemukan jalan kemanfaatannya bagi masyarakat,” pungkas Gus Heri.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.