Bahasa Lokal Terancam Punah, WGII Ingatkan Indonesia Hadapi Krisis Biokultural

ED
PN
Selasa, 30 Juni 2026 | 09:18 WIB
Bagikan
/

Prinsip tersebut menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dengan upaya pelestarian lingkungan.

Selain pengelolaan hutan, masyarakat adat juga memiliki sistem penyimpanan benih yang telah terbukti mampu mempertahankan varietas padi lokal selama bertahun-tahun.

Di komunitas Kasepuhan maupun Baduy, benih disimpan di lumbung adat dengan teknik tradisional, termasuk memanfaatkan tumbuhan tertentu sebagai bahan pengawet alami agar benih tetap berkualitas tanpa menggunakan bahan kimia.

Regenerasi Pengetahuan Mulai Terputus

Cindy mengingatkan bahwa ancaman terhadap warisan biokultural tidak hanya muncul akibat eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga dapat terjadi melalui pendekatan konservasi modern yang membatasi akses masyarakat adat terhadap wilayah leluhur mereka.

Ketika wilayah adat berubah menjadi kawasan konservasi tanpa melibatkan masyarakat setempat, generasi muda kehilangan kesempatan mempelajari pengetahuan yang selama ini diwariskan langsung oleh para tetua adat.

Akibatnya, akses terhadap tanaman obat, kayu untuk membangun rumah adat, hingga berbagai praktik budaya yang terkait dengan alam ikut terputus.

"Salah satu bentuk krisis biokultural hari ini adalah matinya regenerasi pengetahuan dari para tetua adat kepada generasi muda. Warisan biokultural bukan konsep abstrak. Kita perlu mengembalikan perspektif pengelolaan sumber daya alam berdasarkan praktik yang sudah lama hidup dalam keseharian Masyarakat Adat," ujar Cindy.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.