Bahasa Lokal Terancam Punah, WGII Ingatkan Indonesia Hadapi Krisis Biokultural
VISI.NEWS | JAKARTA – Hilangnya satu bahasa lokal tidak hanya berarti berkurangnya jumlah bahasa yang digunakan masyarakat. Di balik kepunahan itu, pengetahuan tentang jenis padi lokal, tanaman obat, tata kelola hutan, hingga ritual yang mengatur hubungan manusia dengan alam juga berisiko lenyap. Kondisi inilah yang disebut sebagai krisis biokultural, sebuah ancaman yang dinilai sama seriusnya dengan hilangnya keanekaragaman hayati.
Peringatan tersebut disampaikan Working Group ICCAs Indonesia (WGII) yang menilai Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga keterkaitan antara alam, budaya, dan pengetahuan tradisional masyarakat adat. Menurut organisasi tersebut, upaya konservasi tidak cukup hanya berfokus pada penyelamatan spesies atau kawasan hutan, tetapi juga harus menjaga sistem pengetahuan yang selama berabad-abad menjadi fondasi masyarakat adat dalam mengelola alam.
Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, dalam keterangan tertulis kepada VISI.NEWS, Senin (29/6/2026), mengatakan ancaman terhadap warisan biokultural bahkan lebih rentan dibandingkan hilangnya keanekaragaman hayati.
"Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas. Karena yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung," kata Cindy.
Menurut Cindy, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas karena memiliki kekayaan ekosistem yang sangat beragam, mulai dari hutan hujan tropis, savana, kawasan pesisir, hingga perairan, beserta ribuan spesies flora dan fauna endemik. Namun, di balik kekayaan alam tersebut, Indonesia juga merupakan negara megabiokultural, yakni wilayah yang memiliki hubungan panjang antara manusia dengan lingkungan yang tercermin melalui bahasa, tradisi, pengetahuan, hingga praktik pengelolaan sumber daya alam.
Ia menjelaskan bahwa selama ini konsep megabiodiversitas lebih banyak dipahami sebagai kekayaan yang dapat dihitung secara fisik, seperti jumlah spesies atau luas kawasan hutan. Padahal, menurutnya, aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dari hubungan sosial dan budaya yang berkembang bersama alam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!