Bahasa Lokal Terancam Punah, WGII Ingatkan Indonesia Hadapi Krisis Biokultural
Setiap varietas padi memiliki nama lokal, fungsi, dan makna yang berbeda. Sebagian digunakan sebagai pangan sehari-hari, sementara jenis lainnya hanya ditanam atau dipanen untuk kepentingan ritual adat tertentu.
"Ada jenis padi lokal yang tidak bisa digantikan, karena fungsinya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga spiritual dan ekologis," ujar Cindy.
Ia mengingatkan bahwa hilangnya satu jenis padi lokal bukan sekadar kehilangan plasma nutfah, tetapi juga menghilangkan praktik budaya yang menyertainya.
"Ketika padi lokal hilang, ritual yang terkait dengannya juga hilang. Ketika ritual hilang, cara masyarakat melihat sumber daya alam ikut berubah. Padi akan dipandang hanya sebagai komoditas untuk dijual. Ketika ritual hilang, hubungan antara manusia dan alam juga hilang. Peradaban yang terkait dengan alam juga akan ikut hilang," katanya.
Pengetahuan Adat Lahir dari Pengamatan Berabad-abad
WGII menilai berbagai praktik konservasi yang dijalankan masyarakat adat merupakan hasil pengamatan panjang terhadap lingkungan yang diwariskan secara turun-temurun.
Di komunitas Kasepuhan, misalnya, terdapat pembagian kawasan hutan menjadi tiga kategori, yakni leuweung titipan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan.
Leuweung titipan merupakan kawasan yang dianggap sakral dan berfungsi menjaga sumber mata air serta habitat berbagai satwa dan tumbuhan. Leuweung tutupan dimanfaatkan secara terbatas sebagai kawasan penyangga yang menyimpan tanaman obat dan berbagai jenis tumbuhan penting. Sementara leuweung garapan menjadi wilayah yang dapat dikelola masyarakat sesuai ketentuan adat untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!