Bahasa Lokal Terancam Punah, WGII Ingatkan Indonesia Hadapi Krisis Biokultural

ED
PN
Selasa, 30 Juni 2026 | 09:18 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS | JAKARTA Hilangnya satu bahasa lokal tidak hanya berarti berkurangnya jumlah bahasa yang digunakan masyarakat. Di balik kepunahan itu, pengetahuan tentang jenis padi lokal, tanaman obat, tata kelola hutan, hingga ritual yang mengatur hubungan manusia dengan alam juga berisiko lenyap. Kondisi inilah yang disebut sebagai krisis biokultural, sebuah ancaman yang dinilai sama seriusnya dengan hilangnya keanekaragaman hayati.

Peringatan tersebut disampaikan Working Group ICCAs Indonesia (WGII) yang menilai Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam menjaga keterkaitan antara alam, budaya, dan pengetahuan tradisional masyarakat adat. Menurut organisasi tersebut, upaya konservasi tidak cukup hanya berfokus pada penyelamatan spesies atau kawasan hutan, tetapi juga harus menjaga sistem pengetahuan yang selama berabad-abad menjadi fondasi masyarakat adat dalam mengelola alam.

Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, dalam keterangan tertulis kepada VISI.NEWS, Senin (29/6/2026), mengatakan ancaman terhadap warisan biokultural bahkan lebih rentan dibandingkan hilangnya keanekaragaman hayati.

"Biokultural ini lebih rentan hilang daripada biodiversitas. Karena yang terancam hilang bukan hanya spesies atau hutan, melainkan seluruh relasi yang membuat spesies, hutan, manusia, bahasa, ritual, dan pengetahuan tersebut saling terhubung," kata Cindy.

Menurut Cindy, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversitas karena memiliki kekayaan ekosistem yang sangat beragam, mulai dari hutan hujan tropis, savana, kawasan pesisir, hingga perairan, beserta ribuan spesies flora dan fauna endemik. Namun, di balik kekayaan alam tersebut, Indonesia juga merupakan negara megabiokultural, yakni wilayah yang memiliki hubungan panjang antara manusia dengan lingkungan yang tercermin melalui bahasa, tradisi, pengetahuan, hingga praktik pengelolaan sumber daya alam.

Ia menjelaskan bahwa selama ini konsep megabiodiversitas lebih banyak dipahami sebagai kekayaan yang dapat dihitung secara fisik, seperti jumlah spesies atau luas kawasan hutan. Padahal, menurutnya, aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dari hubungan sosial dan budaya yang berkembang bersama alam.

"Ada keterkaitan antara alam dan budaya, antara alam dan manusia. Ketika bicara soal biokultural, berarti kita bicara tentang relasi, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih besar," ujarnya.

Alam Bukan Sekadar Objek Ekonomi

Cindy menilai perubahan cara pandang manusia terhadap alam menjadi salah satu penyebab utama munculnya krisis biokultural. Ketika hubungan emosional, spiritual, dan budaya dengan alam mulai hilang, lingkungan hanya dipandang sebagai sumber bahan baku atau komoditas ekonomi.

"Ketika manusia kehilangan rasa keterhubungan dengan alam, alam hanya akan dipandang sebagai objek. Ketika alam hanya dilihat sebagai supply untuk kebutuhan manusia, maka eksploitasi dan destruksi menjadi sesuatu yang dianggap wajar," katanya.

Menurut dia, masyarakat adat selama ini memiliki cara pandang yang berbeda. Alam diposisikan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga karena memiliki hubungan timbal balik dengan manusia.

Pandangan tersebut tercermin dalam berbagai praktik adat yang mengatur pemanfaatan hutan, air, tanah, hingga benih lokal.

Padi Lokal Menyimpan Pengetahuan dan Spiritualitas

Salah satu contoh hubungan erat antara budaya dan alam dapat dilihat dari keberadaan berbagai jenis padi lokal yang masih dipertahankan oleh komunitas adat di berbagai daerah.

Setiap varietas padi memiliki nama lokal, fungsi, dan makna yang berbeda. Sebagian digunakan sebagai pangan sehari-hari, sementara jenis lainnya hanya ditanam atau dipanen untuk kepentingan ritual adat tertentu.

"Ada jenis padi lokal yang tidak bisa digantikan, karena fungsinya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan juga spiritual dan ekologis," ujar Cindy.

Ia mengingatkan bahwa hilangnya satu jenis padi lokal bukan sekadar kehilangan plasma nutfah, tetapi juga menghilangkan praktik budaya yang menyertainya.

"Ketika padi lokal hilang, ritual yang terkait dengannya juga hilang. Ketika ritual hilang, cara masyarakat melihat sumber daya alam ikut berubah. Padi akan dipandang hanya sebagai komoditas untuk dijual. Ketika ritual hilang, hubungan antara manusia dan alam juga hilang. Peradaban yang terkait dengan alam juga akan ikut hilang," katanya.

Pengetahuan Adat Lahir dari Pengamatan Berabad-abad

WGII menilai berbagai praktik konservasi yang dijalankan masyarakat adat merupakan hasil pengamatan panjang terhadap lingkungan yang diwariskan secara turun-temurun.

Di komunitas Kasepuhan, misalnya, terdapat pembagian kawasan hutan menjadi tiga kategori, yakni leuweung titipan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan.

Leuweung titipan merupakan kawasan yang dianggap sakral dan berfungsi menjaga sumber mata air serta habitat berbagai satwa dan tumbuhan. Leuweung tutupan dimanfaatkan secara terbatas sebagai kawasan penyangga yang menyimpan tanaman obat dan berbagai jenis tumbuhan penting. Sementara leuweung garapan menjadi wilayah yang dapat dikelola masyarakat sesuai ketentuan adat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Prinsip tersebut menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dengan upaya pelestarian lingkungan.

Selain pengelolaan hutan, masyarakat adat juga memiliki sistem penyimpanan benih yang telah terbukti mampu mempertahankan varietas padi lokal selama bertahun-tahun.

Di komunitas Kasepuhan maupun Baduy, benih disimpan di lumbung adat dengan teknik tradisional, termasuk memanfaatkan tumbuhan tertentu sebagai bahan pengawet alami agar benih tetap berkualitas tanpa menggunakan bahan kimia.

Regenerasi Pengetahuan Mulai Terputus

Cindy mengingatkan bahwa ancaman terhadap warisan biokultural tidak hanya muncul akibat eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga dapat terjadi melalui pendekatan konservasi modern yang membatasi akses masyarakat adat terhadap wilayah leluhur mereka.

Ketika wilayah adat berubah menjadi kawasan konservasi tanpa melibatkan masyarakat setempat, generasi muda kehilangan kesempatan mempelajari pengetahuan yang selama ini diwariskan langsung oleh para tetua adat.

Akibatnya, akses terhadap tanaman obat, kayu untuk membangun rumah adat, hingga berbagai praktik budaya yang terkait dengan alam ikut terputus.

"Salah satu bentuk krisis biokultural hari ini adalah matinya regenerasi pengetahuan dari para tetua adat kepada generasi muda. Warisan biokultural bukan konsep abstrak. Kita perlu mengembalikan perspektif pengelolaan sumber daya alam berdasarkan praktik yang sudah lama hidup dalam keseharian Masyarakat Adat," ujar Cindy.

Menjelang COP17, Perlindungan Pengetahuan Dinilai Sama Pentingnya

Isu perlindungan warisan biokultural menjadi semakin relevan menjelang Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati Perserikatan Bangsa-Bangsa (CBD COP17) yang akan berlangsung di Armenia pada Oktober 2026.

Forum internasional tersebut menjadi bagian dari upaya global untuk menghentikan laju hilangnya keanekaragaman hayati pada 2030.

Di Indonesia, WGII telah mendokumentasikan lebih dari satu juta hektare wilayah ICCAs (Indigenous Peoples and Local Community Conserved Territories and Areas), yaitu kawasan yang dikelola, dilindungi, dan dilestarikan oleh masyarakat adat maupun komunitas lokal berdasarkan pengetahuan tradisional.

Menurut WGII, keberadaan wilayah-wilayah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat adat masih menjadi aktor penting dalam menjaga kelestarian ekosistem sekaligus mempertahankan nilai budaya yang hidup bersama alam.

WGII menilai keberhasilan target global menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati tidak cukup diukur dari bertambahnya kawasan lindung atau pulihnya populasi satwa. Perlindungan terhadap bahasa daerah, ritual adat, sistem pengetahuan, dan praktik pengelolaan alam yang diwariskan lintas generasi juga menjadi faktor penting.

Sebab, ketika bahasa lokal berhenti digunakan, ritual tidak lagi dijalankan, dan pengetahuan adat gagal diwariskan kepada generasi berikutnya, yang hilang bukan hanya bagian dari identitas budaya masyarakat. Bersamaan dengan itu, hilang pula cara manusia memahami, merawat, dan hidup berdampingan dengan alam yang telah terbentuk selama ratusan tahun.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.