AS Kembali Gempur Iran, Konflik di Selat Hormuz Kian Memanas
Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global sebelum konflik meningkat.
Amerika Serikat sebelumnya menuduh Iran telah menyerang sedikitnya tujuh kapal dagang dalam sepekan terakhir. Serangan-serangan tersebut disebut menyebabkan hampir belasan awak kapal tewas, hilang, atau mengalami luka-luka.
Konflik yang bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 kini telah berkembang menjadi konfrontasi yang melibatkan berbagai negara di kawasan Teluk.
Serangan balasan Iran ke sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika telah memicu gangguan besar terhadap distribusi energi internasional serta meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global.
Dampak konflik juga langsung terasa di pasar energi. Harga minyak dunia kembali menguat sekitar satu persen pada perdagangan Rabu setelah sehari sebelumnya ditutup pada level tertinggi dalam satu bulan terakhir.
Sementara itu, situasi keamanan di negara-negara Teluk juga semakin memburuk.
Militer Bahrain mengumumkan berhasil mencegat sejumlah serangan udara yang dilancarkan Iran pada Rabu dini hari setelah sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah negara tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Komando Angkatan Pertahanan Bahrain menuduh Iran terus melakukan serangan yang menyasar warga sipil dan menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan sejumlah target udara sebelum mencapai sasaran.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!