AS Kembali Gempur Iran, Konflik di Selat Hormuz Kian Memanas
VISI.NEWS – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer Amerika melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap sejumlah target militer Iran pada Rabu (16/7/2026). Serangan tersebut dilakukan di tengah kembali diberlakukannya blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Teheran mengancam akan memperluas gangguan terhadap jalur ekspor energi di kawasan Timur Tengah.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), dikutip dari Arab News, Kamis (16/7/2026), menyatakan bahwa pasukannya melaksanakan serangan presisi selama sekitar 90 menit dengan menggunakan amunisi berpemandu untuk menghantam sistem pertahanan pantai, lokasi penyimpanan rudal jelajah, serta fasilitas peluncuran rudal di Pulau Greater Tunb.
Menurut CENTCOM, operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang selama beberapa waktu terakhir disebut digunakan untuk menyerang kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Militer AS menyebut operasi dimulai sekitar pukul 06.00 waktu setempat dan menjadi bagian dari kampanye yang lebih luas untuk mengamankan jalur pelayaran internasional di kawasan Teluk.
Sehari sebelumnya, Amerika juga mengklaim telah melancarkan serangan selama tujuh jam terhadap puluhan sasaran militer Iran yang berada di sekitar Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran.
Hingga laporan ini disusun, media-media Iran belum melaporkan adanya dampak langsung dari serangan terbaru tersebut.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menyerang sejumlah sasaran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk pangkalan yang berada di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Selain melancarkan serangan balasan, Iran juga mengeluarkan ancaman baru dengan menyatakan siap menutup lebih banyak jalur ekspor energi regional yang dinilai menguntungkan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis yang mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global sebelum konflik meningkat.
Amerika Serikat sebelumnya menuduh Iran telah menyerang sedikitnya tujuh kapal dagang dalam sepekan terakhir. Serangan-serangan tersebut disebut menyebabkan hampir belasan awak kapal tewas, hilang, atau mengalami luka-luka.
Konflik yang bermula dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 kini telah berkembang menjadi konfrontasi yang melibatkan berbagai negara di kawasan Teluk.
Serangan balasan Iran ke sejumlah negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika telah memicu gangguan besar terhadap distribusi energi internasional serta meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global.
Dampak konflik juga langsung terasa di pasar energi. Harga minyak dunia kembali menguat sekitar satu persen pada perdagangan Rabu setelah sehari sebelumnya ditutup pada level tertinggi dalam satu bulan terakhir.
Sementara itu, situasi keamanan di negara-negara Teluk juga semakin memburuk.
Militer Bahrain mengumumkan berhasil mencegat sejumlah serangan udara yang dilancarkan Iran pada Rabu dini hari setelah sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah negara tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Komando Angkatan Pertahanan Bahrain menuduh Iran terus melakukan serangan yang menyasar warga sipil dan menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan sejumlah target udara sebelum mencapai sasaran.
Kuwait juga melaporkan berhasil mencegat sejumlah pesawat nirawak atau drone yang disebut sebagai bagian dari agresi Iran terhadap negara-negara Teluk.
Rangkaian serangan dan serangan balasan tersebut terjadi ketika Amerika Serikat kembali memperketat blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sebuah langkah yang diperkirakan akan semakin meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Di tengah memanasnya konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington siap memperluas operasi militernya apabila Iran tidak bersedia mencapai kesepakatan baru.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan bahwa serangan berikutnya dapat menyasar infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, apabila negosiasi kembali mengalami kebuntuan.
Sebelumnya, kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata sementara pada bulan lalu sebagai langkah awal menuju perundingan damai. Namun, proses negosiasi tidak mengalami kemajuan sehingga bentrokan kembali pecah dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan situasi yang terus memburuk di Selat Hormuz, kekhawatiran internasional terhadap stabilitas kawasan, keamanan jalur perdagangan global, dan pasokan energi dunia diperkirakan akan terus meningkat apabila tidak segera tercapai kesepakatan diplomatik antara kedua negara.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!