AMSI Soroti Bahaya FIMI: Manipulasi Informasi Asing yang Kian Ancam Jurnalisme dan Ruang Publik
talkshow dan sharing session bertajuk “Melawan Disinformasi dan FIMI melalui Cek Fakta serta Literasi Digital” yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026)./visi.news/ist.
Sementara itu peserta lainnya, ilustrator Mojok.co, Dena Isni Pasha, mengatakan proses mengidentifikasi suatu kasus sebagai FIMI tidak selalu mudah karena sering kali terdapat tumpang tindih dengan bentuk disinformasi lain.
“Bahkan bagi media sendiri, mengategorikan suatu kasus sebagai FIMI atau bukan itu tidak sederhana. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjelaskannya kepada audiens,” kata Dena.
Ia menilai pendekatan eksplanatif menjadi metode yang paling efektif untuk membantu publik memahami fenomena tersebut. Menurut pengalamannya, hoaks yang paling sering ditemukan berasal dari platform TikTok dan Facebook.
Diskusi ini digelar di tengah meningkatnya dominasi konten video sebagai sumber informasi masyarakat. Data MAFINDO mencatat terdapat 2.119 hoaks sepanjang paruh pertama 2024, dengan lebih dari seribu kasus berkaitan dengan isu politik. Sementara itu, YouTube, Facebook, dan TikTok menjadi platform utama penyebaran hoaks digital.
Melihat perkembangan tersebut, AMSI mengembangkan program pelatihan dan fellowship untuk memperkuat kemampuan organisasi media dalam memproduksi konten video cek fakta yang sesuai dengan karakter media sosial. Program tersebut mencakup pelatihan intensif pada Februari 2026 dan dilanjutkan dengan fellowship produksi konten bagi media peserta.
Melalui kegiatan ini, AMSI berharap media, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan dapat membangun kolaborasi yang lebih kuat dalam menghadapi ancaman manipulasi informasi yang semakin kompleks.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!