AMSI Soroti Bahaya FIMI: Manipulasi Informasi Asing yang Kian Ancam Jurnalisme dan Ruang Publik
talkshow dan sharing session bertajuk “Melawan Disinformasi dan FIMI melalui Cek Fakta serta Literasi Digital” yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026)./visi.news/ist.
VISI.NEWS | JAKARTA - Ancaman disinformasi dan misinformasi di Indonesia tidak lagi soal hoaks yang beredar menjelang pemilu. Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), media sosial, dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, muncul tantangan yang lebih kompleks, yaitu Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI), atau manipulasi dan intervensi informasi asing.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam talkshow dan sharing session bertajuk 'Melawan Disinformasi dan FIMI melalui Cek Fakta serta Literasi Digital' yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026). Acara ini sekaligus menjadi ajang berbagi pengalaman peserta program pelatihan dan fellowship yang diselenggarakan oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama Internews.
Wakil Ketua AMSI, Suwarjono, mengatakan persoalan disinformasi kini telah menjadi tantangan bersama, bukan hanya bagi media massa, melainkan juga bagi pembuat konten, organisasi masyarakat sipil, akademisi, hingga masyarakat umum.
“Dulu kami menemukan puncak persoalan ini saat pemilu. Tetapi sekarang disinformasi, misinformasi, dan hoaks membanjiri ruang publik tanpa menunggu momentum politik,” kata Suwarjono dalam rilis yang diterima VISI.NEWS, Jumat (12/6/2026).
Menurut dia, perkembangan teknologi digital membuat setiap orang dapat memproduksi dan menyebarkan informasi secara instan. Namun, kecepatan perkembangan teknologi tersebut belum diimbangi oleh pengawasan dan regulasi yang memadai. Akibatnya, ruang media sosial menjadi lahan subur bagi penyebaran informasi palsu yang kerap didorong oleh kepentingan politik maupun ekonomi.
Ia juga menyoroti perubahan perilaku audiens yang semakin bergeser dari platform berita berbasis teks menuju konten video di media sosial. Pergeseran itu memaksa media beradaptasi dalam memproduksi informasi sekaligus memperkuat praktik verifikasi di tengah derasnya arus konten digital.
Senior Project Officer Asia Internews, Vino Lucero, mengatakan kolaborasi dengan AMSI selama beberapa bulan terakhir berangkat dari kebutuhan untuk mencari pendekatan baru dalam memproduksi konten cek fakta yang lebih relevan dengan pola konsumsi informasi saat ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!