AMSI Soroti Bahaya FIMI: Manipulasi Informasi Asing yang Kian Ancam Jurnalisme dan Ruang Publik
talkshow dan sharing session bertajuk “Melawan Disinformasi dan FIMI melalui Cek Fakta serta Literasi Digital” yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026)./visi.news/ist.
Menurut dia, selama ini konten cek fakta umumnya disajikan dalam format yang konvensional. Karena itu, Internews bersama AMSI berupaya mendorong berbagai eksperimen dan inovasi dalam produksi konten, termasuk pemanfaatan format video yang lebih sesuai dengan karakter media sosial sekaligus memperkenalkan isu Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI) kepada publik.
“Kami mencoba mendorong batas-batas yang ada dalam produksi konten cek fakta. Kami juga memikirkan bagaimana kolaborasi ini bisa dimanfaatkan lebih jauh, termasuk untuk memperkenalkan isu FIMI yang masih relatif baru,” kata Vino.
Ia mengakui bahwa upaya memahami dan menghadapi FIMI masih terus berkembang. Belum semua jawaban tersedia, namun pengalaman para peserta fellowship dan organisasi media yang terlibat menunjukkan bahwa pendekatan baru melalui konten yang dirancang khusus untuk media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Lebih lanjut, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Fransiscus Xaverius Lilik Dwi Mardjianto, menjelaskan bahwa konsep disinformasi dan misinformasi dinilai tidak lagi cukup untuk menggambarkan seluruh bentuk manipulasi informasi yang berkembang saat ini.
Ia menjelaskan, Uni Eropa mulai memperkenalkan istilah FIMI pada 2021 untuk menjelaskan aktivitas manipulatif yang dilakukan secara sengaja, terkoordinasi, dan sistematis guna memengaruhi ekosistem informasi.
“FIMI tidak hanya menyasar produksi informasi, tetapi juga distribusi hingga konsumsi informasi untuk memengaruhi persepsi dan perilaku publik,” ujarnya.
Menurut Lilik, terdapat sejumlah elemen utama dalam FIMI, yakni keterlibatan aktor asing, adanya tujuan yang disengaja, koordinasi yang sistematis, praktik manipulasi informasi, serta upaya memengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan publik. Dampaknya dapat menyasar institusi demokrasi, proses politik, kepercayaan publik, hingga stabilitas sosial.
Dalam paparannya, Lilik menjelaskan bahwa operasi FIMI umumnya diawali dengan perencanaan strategi dan produksi konten manipulatif dalam berbagai format. Konten tersebut kemudian didistribusikan melalui jaringan bot, troll, influencer, atau akun-akun yang terkoordinasi untuk memperluas jangkauan pesan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!