Ajarkan Anak Berpuasa Sesuai Usia, Ini Saran Psikolog Unpad
Memasuki usia sekolah akhir hingga remaja awal, penggunaan reward fisik sebaiknya diminimalkan. Penguatan lebih difokuskan pada dialog, refleksi, dan rasa bangga terhadap diri sendiri. Anak diajak menyadari bahwa puasa melatih pengendalian diri, memperkuat hubungan spiritual, dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.
Reward, jika digunakan, sifatnya simbolik dan berbasis pengalaman, bukan materi.
"Anak sudah lebih mampu merefleksikan pengalaman dan memahami makna ibadah," kata Mariska.
Di semua tahap, orang tua disarankan menerapkan proses fading, yaitu pengurangan reward secara bertahap. Tujuannya agar anak beralih dari motivasi berbasis hadiah ke motivasi intrinsik, sehingga anak mampu merasakan kepuasan batin, makna spiritual, dan manfaat kesehatan dari puasa itu sendiri.
“Dengan pendekatan ini, reward tidak merusak makna ibadah, tetapi menjadi jembatan awal yang membantu anak belajar, tumbuh, dan memaknai puasa sesuai tahap perkembangannya,” kata Mariska.
Dengan bimbingan yang tepat, Ramadan dapat menjadi pengalaman yang aman, hangat, dan mendidik. Anak tidak sekadar belajar menahan lapar, tetapi memahami nilai, ibadah, dan kebiasaan yang menyehatkan tubuh dan jiwa. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!