Ajarkan Anak Berpuasa Sesuai Usia, Ini Saran Psikolog Unpad
Reward sebagai strategi perkembangan
Penggunaan sistem hadiah atau reward masih sering dipilih orang tua untuk memotivasi anak berpuasa. Menurut Mariska, reward harus dipahami sebagai strategi perkembangan.
Pada usia tertentu, reward masih dibutuhkan sebagai penguat eksternal, namun seiring bertambahnya usia, fokus penguatan perlu bergeser ke motivasi intrinsik, pemahaman nilai spiritual, dan kesadaran diri.
Untuk anak prasekolah, reward konkret masih relevan karena anak berpikir konkret dan belum mampu memaknai tujuan puasa secara abstrak. Hadiah bisa berupa stiker, chart, atau aktivitas menyenangkan bersama keluarga. Yang penting, reward diberikan atas usaha dan perilaku positif yang menyertai puasa, seperti mau mencoba menahan lapar, mau sahur, atau mampu mengalihkan perhatian saat tidak nyaman.
Reward ini selalu disertai penjelasan sederhana tentang makna puasa, misalnya usaha anak disukai Allah dan baik untuk tubuhnya yang sedang belajar teratur.
Pada usia sekolah awal, tujuh hingga sembilan tahun, reward masih dapat digunakan, tetapi mulai dikurangi dan tidak bersifat transaksional.
Apresiasi diberikan atas perilaku yang lebih luas, seperti mampu bersikap sabar, mau beribadah, memilih makanan sehat saat berbuka, atau menyisihkan uang untuk sedekah.
Reward difokuskan sebagai apresiasi orang tua, sementara nilai spiritual dan pemahaman bahwa puasa membawa kebaikan bagi diri dan orang lain lebih ditekankan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!