AISNU Desak Media Lebih Berimbang dalam Pemberitaan

ED
Kamis, 16 Oktober 2025 | 15:04 WIB
Bagikan
AISNU Desak Media Lebih Berimbang dalam Pemberitaan

Oleh: Abdul Majid Ramdhani

NARASI yang menyudutkan kehidupan santri dari tayangan segmen program salah satu stasiun televisi, TRANS7 (Xpose Unscored), telah menjadi sorotan tajam dari komunitas santri se-Indonesia. Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara, yang dikomandoi oleh Ulinnuha Lazulfa atau Gus Ulin selaku Koordinator Nasional AISNU, dengan tegas menyuarakan keberatan mereka terhadap tayangan tersebut. Mereka menilai, media sekelas TRANS7 seharusnya lebih peka dan berimbang dalam menyiarkan informasi, terlebih yang menyangkut dunia pesantren dan para santri.

Dalam unggahan terbarunya di akun Instagram @masqulin, Gus Ulin menulis, “Demo hari ini nampaknya sama sekali tidak menjadikan TRANS7 dan TRANSCORP bebenah, mereka kerahkan buzzer untuk bela TRANS7, tidak masuk akal.” Pernyataan itu disertai video aksi protes para santri dan alumni pesantren se-Jabodetabek di depan Gedung TRANSMEDIA, Jalan Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Rabu (15/10/2025). Gelombang protes tersebut menunjukkan kekecewaan mendalam komunitas santri terhadap pemberitaan yang dianggap mencederai martabat pesantren.

Kita hidup di era di mana arus informasi bergerak sangat cepat. Masyarakat kini bergantung pada media untuk memahami fenomena sosial, politik, dan budaya. Dalam posisi strategisnya, media memiliki kekuatan membentuk opini publik. Karena itu, setiap tayangan seharusnya disajikan dengan prinsip kehati-hatian, objektivitas, dan tanggung jawab sosial. Sebab, ketika media tergelincir dalam framing yang keliru, dampaknya bisa mengoyak kehormatan suatu komunitas, seperti yang kini dirasakan kalangan pesantren.

Rabu siang itu, Gedung TRANSMEDIA disesaki massa dari berbagai elemen masyarakat: para santri, alumni pesantren, hingga ormas Islam di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Mereka datang dengan satu suara — menuntut keadilan dan klarifikasi atas tayangan yang dianggap melecehkan simbol-simbol kehidupan pesantren. Meski aksi dilakukan dalam jumlah besar, namun suasana tetap damai dan kondusif. Santri tetap menunjukkan jati dirinya sebagai penjaga akhlak dan ketenangan, bahkan di tengah demonstrasi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.