AISNU Desak Media Lebih Berimbang dalam Pemberitaan
Gus Ulinnuha dalam orasinya menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar reaksi emosional, melainkan panggilan moral. “Aksi protes ini ditenagai oleh aspirasi cinta santri kepada kiai, yang menjadi misi utama perjuangan kami,” ujarnya kepada kontributor media. Baginya, perjuangan santri selalu berpijak pada nilai cinta dan penghormatan terhadap guru serta penjaga ilmu.
Ia menambahkan, “Unjuk rasa AISNU hari ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ghirah perjuangan kami santri adalah hidup mati kami untuk bela kiai.” Pernyataan tersebut menjadi gema yang menegaskan bahwa dunia pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi benteng moral bangsa yang harus dihormati.
Dalam diskusi daring bertajuk “Santri Menggugat: Mengapa Tayangan TRANS7 Hina Pesantren” yang disiarkan melalui kanal YouTube, sejumlah tokoh turut angkat bicara, di antaranya Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI). Ia menegur keras pihak TRANSMEDIA dan bahkan menolak undangan dari TRANS7. “Saya sakit hati,” tegasnya. Islah berharap pimpinan tertinggi TRANSCORP segera meninjau ulang struktur redaksi dan menjadikan peristiwa ini sebagai bahan introspeksi mendalam.
Lebih jauh, Islah menyinggung bahwa pernyataan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, yang menyatakan “kami tidak terima”, merupakan sinyal tegas dari ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut. “Ini menjadi alarm keras bagi media agar tidak semena-mena membingkai pesantren dengan cara yang keliru,” ungkap Islah. Ia bahkan menyebut bahwa pola pemberitaan yang menyerang Lirboyo hanyalah cara media untuk ‘cek ombak’ terhadap pesantren-pesantren lain.
Gus Ulinnuha pun menegaskan posisi AISNU, “Kami tidak akan memberi celah bagi media mana pun untuk mengulangi kesalahan seperti ini. Jika kiai dicaci atau pesantren dihina, kami siap turun ke jalan atas instruksi PBNU.” Seruan itu menunjukkan bahwa AISNU tak sekadar organisasi santri biasa, tetapi gerakan moral yang menjaga marwah pesantren dari distorsi media.
Peran media sejatinya amat vital dalam menopang pilar demokrasi. Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pendidik publik dan pengawas sosial. Oleh karena itu, tanggung jawab etik menjadi landasan utama agar setiap pemberitaan tidak merugikan pihak tertentu, apalagi lembaga keagamaan yang selama ini berkontribusi besar dalam pendidikan dan moral bangsa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!