AISNU Desak Media Lebih Berimbang dalam Pemberitaan
Media seharusnya mampu bersikap berimbang dan membuka ruang refleksi yang sehat dalam pemberitaan. Dunia pesantren dengan segala keunikannya perlu dipahami secara mendalam, bukan disimplifikasi dalam bingkai sensasi atau stigma. Penguatan literasi jurnalistik yang berpihak pada fakta dan empati menjadi kunci untuk menjaga harmoni antara media dan masyarakat.
Kini, tagar #BoikotTrans7 menggema di berbagai platform media sosial. Gelombang solidaritas santri dari berbagai daerah menunjukkan bahwa pesantren bukan entitas yang bisa diremehkan. Mereka punya suara, punya nilai, dan punya marwah yang akan selalu dijaga. Karena bagi santri, membela kiai bukan sekadar tindakan, tetapi bentuk pengabdian yang lahir dari cinta — cinta pada ilmu, pada adab, dan pada kebenaran.***
- Abdul Majid Ramdhani, AISNU Koorwil Banten/Tim Media AISNU.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!