Abah Nanu: Wana, Wani, Wanoh
Menurut Abah Nanu, kondisi seperti itulah yang sering dihadapi para pemimpin ketika memulai sebuah pekerjaan besar.
"Wana itu hutan geledegan, hutan lebat yang kita hadapi saat ini. Banyak binatang buas dan ancaman di dalamnya. Namun jangan gentar saat mulai berada di dekatnya. Artinya kita harus berani membuka jalannya, harus babad alasnya agar memiliki pijakan yang jelas," jelasnya.
Ia kemudian mengingatkan pada kisah para leluhur Nusantara yang berhasil mengubah hutan belantara menjadi pusat peradaban. Seperti halnya para pendiri Cirebon yang dengan keyakinan dan kerja keras mampu membuka kawasan yang semula berupa hutan menjadi wilayah pemukiman yang berkembang hingga sekarang.
Bagi Abah Nanu, seorang pemimpin harus memiliki keberanian memasuki wilayah yang belum pasti. Tidak takut menghadapi keraguan, hambatan, maupun tantangan yang muncul di depan mata.
Wani: Keberanian Mengambil Sikap
Setelah mampu memasuki dan membuka jalan di dalam "hutan", seorang pemimpin harus memiliki sifat kedua, yakni Wani.
Wani berarti berani.
Namun keberanian yang dimaksud bukan sekadar keberanian fisik, melainkan keberanian mengambil keputusan, menentukan arah, dan menjaga konsistensi organisasi agar tetap berjalan pada tujuan yang telah ditetapkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!