Abah Nanu: Wana, Wani, Wanoh
VISI.NEWS - Di tengah kesibukan mempersiapkan sebuah perhelatan besar yang diharapkan menjadi ruang perjumpaan seni, budaya, dan spiritualitas Islam, Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar, Bambang Melga, mendapatkan sebuah nasihat berharga dari sosok yang selama ini dikenal sebagai seniman, budayawan, pendekar silat, sekaligus tokoh budaya Jawa Barat, Abah Nanu.
Percakapan melalui sambungan telepon itu tidak berlangsung sebagai obrolan biasa. Bagi Bambang Melga, setiap kalimat yang disampaikan Abah Nanu terasa seperti wejangan yang sarat makna, memancarkan energi positif sekaligus mengingatkan tentang hakikat kepemimpinan dalam mengawal sebuah agenda besar.
Abah Nanu mengawali pesannya dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan batin. Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan berpikir logis dan kalkulasi rasional, tetapi juga harus memiliki kepekaan hati yang mampu menangkap tanda-tanda kebijaksanaan dari Sang Pencipta.
"Kita tidak menafikan otak dan nalar yang terbiasa dengan kalkulasi serta hitungan matematis. Itu bagian dari perhitungan realistis di permukaan, hitungan kulit luar namanya. Sedangkan kami para seniman kolot terbiasa bekerja dengan manajemen qolbu. Karena unsur ini membuat kita selalu ingin satu frekuensi dengan Dia, Allah Yang Maha Menyutradarai. Kita hanyalah wayang sekotak yang digerakkan oleh-Nya," ujar Abah Nanu.
Bagi Abah Nanu, jabatan dan amanah kepemimpinan bukanlah sekadar posisi organisatoris. Kepemimpinan adalah peran yang dititipkan oleh takdir dan harus dijalankan dengan penuh rasa syukur. Dalam konteks itulah ia memperkenalkan filosofi Sunda yang menurutnya sangat relevan bagi siapa pun yang dipercaya memimpin sebuah gerakan besar, yakni Wana, Wani, Wanoh.
Wana: Membuka Jalan di Tengah Belantara
Filosofi pertama adalah Wana.
Dalam bahasa Sunda, wana dapat dimaknai sebagai hutan lebat yang penuh tantangan. Hutan yang gelap, belum terbuka jalannya, bahkan dipenuhi berbagai ancaman yang menakutkan.
Menurut Abah Nanu, kondisi seperti itulah yang sering dihadapi para pemimpin ketika memulai sebuah pekerjaan besar.
"Wana itu hutan geledegan, hutan lebat yang kita hadapi saat ini. Banyak binatang buas dan ancaman di dalamnya. Namun jangan gentar saat mulai berada di dekatnya. Artinya kita harus berani membuka jalannya, harus babad alasnya agar memiliki pijakan yang jelas," jelasnya.
Ia kemudian mengingatkan pada kisah para leluhur Nusantara yang berhasil mengubah hutan belantara menjadi pusat peradaban. Seperti halnya para pendiri Cirebon yang dengan keyakinan dan kerja keras mampu membuka kawasan yang semula berupa hutan menjadi wilayah pemukiman yang berkembang hingga sekarang.
Bagi Abah Nanu, seorang pemimpin harus memiliki keberanian memasuki wilayah yang belum pasti. Tidak takut menghadapi keraguan, hambatan, maupun tantangan yang muncul di depan mata.
Wani: Keberanian Mengambil Sikap
Setelah mampu memasuki dan membuka jalan di dalam "hutan", seorang pemimpin harus memiliki sifat kedua, yakni Wani.
Wani berarti berani.
Namun keberanian yang dimaksud bukan sekadar keberanian fisik, melainkan keberanian mengambil keputusan, menentukan arah, dan menjaga konsistensi organisasi agar tetap berjalan pada tujuan yang telah ditetapkan.
"Pemimpin itu harus berani mengambil sikap. Menentukan jalannya kegiatan agar bisa dikawal sukses dan lancar sampai pelaksanaan. Bersikap tegas sangat penting," tegas Abah Nanu.
Dalam penjelasannya, ia bahkan mengaitkan prinsip tersebut dengan sosok pendekar legendaris Jepang, Miyamoto Musashi, yang dikenal memiliki kepemimpinan kuat dan keteguhan dalam mengambil keputusan.
Menurut Abah Nanu, sebuah organisasi atau kepanitiaan tidak boleh dibiarkan kehilangan arah akibat banyaknya keraguan dan suara-suara yang melemahkan semangat perjuangan.
"Sebagai komandan, suaranya harus didengar. Semua harus patuh pada sikap yang sudah ditetapkan. Jangan sampai muncul keraguan dalam barisan. Kalau pemimpin tidak bersikap dan ada suara sumbang yang mengoyahkan barisan, itu bisa membuat kita kalah sebelum pergi berperang," katanya penuh semangat.
Pesan itu terasa relevan bagi Bambang Melga yang tengah memimpin persiapan Festival Al Jabbar, sebuah agenda yang melibatkan banyak pihak, gagasan, dan kepentingan. Di tengah dinamika tersebut, ketegasan menjadi syarat penting untuk menjaga arah perjuangan tetap berada pada jalurnya.
Wanoh: Mengenal untuk Saling Menguatkan
Filosofi ketiga adalah Wanoh.
Dalam bahasa Sunda, wanoh berarti mengenal.
Namun makna yang dimaksud Abah Nanu jauh lebih dalam daripada sekadar saling mengetahui nama atau identitas. Wanoh adalah kemampuan memahami karakter, kelebihan, dan kekurangan saudara seperjuangan.
Dari pemahaman itulah lahir rasa persaudaraan yang kuat.
"Yang ketiga adalah wanoh, mengenal, sudah saling tahu dan memahami kekurangan saudaranya. Dengan ikatan persaudaraan itu, kita bisa saling mendukung, menguatkan, dan membentengi satu sama lain," tuturnya.
Menurut Abah Nanu, sebuah perhelatan besar tidak mungkin berhasil hanya karena kemampuan satu orang. Kesuksesan lahir dari kebersamaan orang-orang yang saling percaya dan saling menguatkan.
Ia menilai Festival Al Jabbar merupakan kegiatan yang memiliki nilai strategis karena mampu mempertemukan unsur seni, budaya, dan spiritualitas Islam dalam satu ruang dialog yang harmonis.
"Festival Al Jabbar, atau apapun nanti nama festivalnya, adalah perhelatan besar yang perlu dikawal oleh siapa pun. Karena ini sangat bermanfaat bagi umat. Masyarakat bisa melihat bahwa seni, budaya, dan spiritual Islam itu sesungguhnya bersinergi dan saling menguatkan," ujarnya.
Seni sebagai Jalan Dakwah
Di bagian akhir percakapan, Abah Nanu mengingatkan bahwa hubungan antara seni dan Islam bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah Nusantara.
Justru seni pernah menjadi media dakwah paling efektif yang digunakan para wali untuk mendekati masyarakat.
"Kang Bambang mesti tahu, bahkan seni dipakai para wali dalam syiar untuk mendekatkan hati masyarakat yang saat itu berbeda keyakinan. Apa yang terjadi? Islam melalui pendekatan seni mampu mengislamisasi Nusantara, khususnya tanah Jawa yang kita lihat sekarang ini," pungkasnya.
Bagi Bambang Melga, nasihat tersebut menjadi bekal moral sekaligus spiritual dalam mengemban amanah besar. Di balik berbagai persiapan teknis, target program, dan dinamika organisasi, ada pesan mendalam yang terus terngiang dari seorang budayawan sepuh Jawa Barat: seorang pemimpin harus mampu menembus belantara tantangan (Wana), berani menentukan arah (Wani), dan membangun persaudaraan yang saling menguatkan (Wanoh).
Tiga kata sederhana itu ternyata menyimpan filosofi kepemimpinan yang begitu dalam. Sebuah warisan kearifan Sunda yang tetap relevan di tengah zaman modern, sekaligus menjadi kompas moral bagi siapa pun yang dipercaya memimpin jalan menuju sebuah kebaikan.Feature ini dapat disajikan sebagai rubrik budaya, tokoh, atau inspirasi kepemimpinan dengan nuansa human interest yang kuat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!