3 Langkah Transformasikan Spirit Hijrah dalam Momentum Tahun Baru Islam
VISI.NEWS | JAKARTA - 1 Muharam 1444 bertepatan dengan hari Sabtu 30 Juli 2022. Riang gembira umat merayakan pergantian tahun menjadi fenomena magis yang begitu memesona. Gegap gempita kegembiraan secara identik mengarak masyarakat dalam suasana perayaan.
Semua orang menanggalkan aktivitas rutin keseharian ikut serta menyemarakkan dengan beragam festival, syukuran, dan hajatan. Gema perayaan saling bersahutan, di timur dan barat, di utara dan selatan. Toa-toa yang memekakkan, petasan yang silih-ganti bertebaran, suara riak anak kecil dengan permainan, suara tabuh rebana selawatan, dan bisik-gemercik ala ibu-ibu pedesaan menghiasi panorama 1 Muharam dalam satu malam.
Inilah daya magis Muharam dengan kegembiraan yang barangkali menghiasi Muslim Indonesia. Merayakan pergantian tahun menjadi hal yang wajar. Ritus tahunan ini tidak hanya dilakukan umat Islam. Dalam era dengan doktrinal tunggal modernisme dan gempuran kemajuan digital, perayaan semacam ini masih bergelut dengan ritual umat-umat di seluruh dunia, mewujud menjadi peradaban, di India, China, bahkan Amerika Serikat.
Terdapat hal renungan eksploratif, baik dalam rajutan historis, nilai sosiologis, dan dasar teologis yang hanya bisa diekspresikan lewat kegembiraan. Secara historis, hakikat tahun baru Hijriah adalah momentum perubahan. Bisa dilihat bagaimana jasa peradaban dari Rasulullah saw. yang ditandai dengan perjalanan dakwah kenabian ke Madinah. Hijrah Nabi—yang dihubungkan dengan penanggalan Hijriah—memantik perubahan konstruktif secara besar-besaran dalam lintas zaman dan ruang.
Fakta itu adalah kebenaran imparsial yang diakui secara aksiomatik tanpa bantahan. Peradaban masyarakat madani (civil society) pun terbentuk, dari umat yang bergelut dengan konservatisme-mistikal beranjak ke umat yang rasional dan profesional, dari budaya literatur mengingat dan menghafal berubah menjadi umat yang membaca dan menulis secara teks dan kontekstual, era perbudakan oligarki-monarki berubah pada era musyawarah dan demokrasi, dan budaya matriarki-patriarki dihapuskan dengan konsep kesetaraan gender (Nasaruddin Umar, 2018: 09). Secara sosiologis dan peribadatan, perayaan tahun Hijriah manjadi ritual peribadatan kemanusiaan. Selain ritus-ritus keagamaan yang disyariatkan, makna dan hakikat perubahan yang dikandung dalam pergantian tahun berhasil memberikan impresi sosial yang cukup berarti.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!