3 Langkah Transformasikan Spirit Hijrah dalam Momentum Tahun Baru Islam
Hal primordial adalah renungan terhadap amal peribadatan (teosentrik) dan penajaan ulang terhadap keberagamaan, terlebih relasinya terhadap kemanusiaan (antroposentristik). Pada saatnya, renungan itu bertransformasi pada kultur etis yang membudaya, berupa perayaan ekspresi kegembiraan di ruang-ruang terbuka. Di Indonesia, hal itu menjadi tren spritualitas kekinian yang dilakaukan secara berkala di tiap tahun.
Setidaknya, impact sosial yang dipertontonkan, pergantian tahun menjadi momentum sakral untuk meningkatkan keimanan dan penghambaan kepada Tuhan. Begitu pula dalam telaah teologisnya, dalam literatur teks-teks keagamaan banyak ditemui dalam ayat maupun hadis yang menelaah tentang urgensi pergantian/perubahan tahun. Ini secara ontologis literaturnya, secara umum dinisbatkan pada sumpah (qasam) Tuhan, yakni ‘demi masa’.
Allah SWT dengan lugas menjadikan waktu/masa dalam QS Al-Ashr sebagai pijakan autentik dari firman-firman-Nya kepada umat manusia. Ini menjadi bukti waktu adalah bagian dari dalih ontis yang dimuliakan. Dalam QS Ali Imran ayat 140, Allah SWT menegaskan ulang tentang epistimologi waktu dan relasinya dengan kehidupan manusia.
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ
“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS Ali Imran ayat 140). Dalam ayat tersebut disebutkan pergantian masa (pergiliran) adalah momentum bergulir yang digunakan Tuhan untuk menguji konsistensi keimanan umatnya. Dengan itu pula, perbedaan refleksi yang ditunjukkan oleh masing-masing umat menjadi petanda perbedaan tingkat kuliatas keumatan di antara mereka. Maka, merayakan pergantian tahun baru Hijriah secara hakikat dan maknawi adalah merefleksikan diri untuk terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Setidaknya ada tiga hal yang perlu ditransformasikan dari sekadar ritual perayaan tahunan sehingga nilai filosofisnya bisa diproyeksikan secara nyata dalam laku peribadatan. Pertama, mensyukri tambahan umur yang telah dianugerahi Tuhan kepada kita. Bertambahnya umur adalah kesempatan untuk kesekian kalinya yang patut untuk digunakan sebaik mungkin dalam melaksanakan tugas kekhalifahan Tuhan di dunia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!