Wa Eros Meledak di Musrenbang! Kades Arjasari Bongkar Kegelisahan Desa
VISI.NEWS | BANDUNG — Suasana Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kabupaten Bandung Tahun 2027 di Hotel Grand Sunshine, Selasa (31/3/2026), mendadak memanas. Rosiman, yang dikenal sebagai Kepala Desa Arjasari sekaligus Wakil Ketua I DPC APDESI Kabupaten Bandung periode 2021–2026, menyampaikan kritik tajam dan penuh kegelisahan terhadap arah pembangunan desa saat ini.
Pria yang akrab disapa “Wa Eros” itu tampil lugas dan tanpa basa-basi di hadapan forum. Dalam penyampaiannya, ia menyoroti kekhawatiran akan potensi kemerosotan pembangunan jika pola kebijakan tidak segera diperbaiki. “Nah itu mah harapan ya, mudah-mudahan kita bisa menyelesaikan persoalan dengan pemerintah daerah dan semua stakeholder,” ujarnya di hadapan peserta Musrenbang.
Wa Eros menyinggung pernyataan dari sejumlah delegasi, termasuk perwakilan dari Ciparay, yang menurutnya mencerminkan keresahan di tingkat bawah. Ia menyebut, ada kecenderungan pembangunan di Indonesia mengalami penurunan kualitas. “Tadi juga disampaikan, pembangunan berkecenderungan akan terjadi kemerosotan. Ini harus jadi perhatian bersama,” tegasnya.
Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, ia mengkritik penggunaan dana desa yang dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran. Menurutnya, kebijakan besar tidak selalu berdampak langsung ke masyarakat desa. Ia pun mendorong agar pola Musrenbang diubah secara mendasar.
“Pola musrenbang teu bisa kitu-kitu wae, kudu aya perubahan. Pola pikirna oge kudu dirubah. Cara nampung aspirasi teh kumaha, dasarna ti mana?” ucapnya dalam selipan bahasa Sunda yang langsung disambut perhatian peserta forum.
Ia juga menyoroti beban baru yang diberikan kepada desa, terutama terkait program-program berbasis data dan teknologi. Menurutnya, implementasi di lapangan kerap tidak diimbangi dengan kesiapan desa. “Kadang desa dibebani, tapi kesiapan teknisna teu jelas. Eta nu jadi masalah,” katanya.
Dalam pernyataan yang cukup menyentil, Wa Eros bahkan menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mempertanyakan efektivitas program tersebut jika tidak dibarengi dengan pengawasan ketat. “Saya tanya, MBG akan dikasih? Mudah-mudahan henteu aya bayi keracunan,” ujarnya dengan nada serius.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!