VISI | Zubair bin Awwam: Pengusaha Real Estate dan Investor Cerdas
Banyak pesantren yang kini mulai investasi di kawasan penyangga (suburban) yang harganya lebih terjangkau tetapi punya potensi kenaikan nilai tinggi seiring pembangunan infrastruktur. Pesantren yang cerdas membeli tanah di sekitar rencana pembangunan jalan tol, universitas, atau pusat bisnis untuk apresiasi nilai jangka panjang.
Beberapa pesantren bahkan mulai membangun asrama mahasiswa di sekitar kampus-kampus besar, mengembangkan wisata religi, atau membangun hotel syariah di lokasi strategis. Semua ini adalah bentuk investasi properti produktif yang menghasilkan passive income untuk operasional pesantren.
Prinsip Investasi Properti untuk Pesantren
Dari kisah Zubair dan praktik pesantren sukses, ada beberapa prinsip yang bisa diterapkan: 1. Beli tanah sejak dini, meski belum ada rencana pembangunan konkret. Tanah tidak pernah menyusut nilainya. 2. Pilih lokasi strategis atau area yang sedang berkembang (sunrise property). 3. Manfaatkan dengan produktif—jangan biarkan tanah menganggur. 4. Gunakan leverage halal seperti mudharabah atau musyarakah jika perlu modal tambahan. 5. Diversifikasi—jangan taruh semua aset di satu lokasi saja. 6. Hold jangka panjang—properti bukan untuk quick profit, tetapi untuk keberlanjutan lembaga.
Real Estate untuk Keberlanjutan Lembaga
Zubair bin Awwam mengajarkan kita bahwa investasi properti yang cerdas bisa menjamin keberlanjutan finansial bahkan setelah kita tiada. Properti yang ia beli bukan untuk kemewahan pribadi, tetapi untuk kesejahteraan keluarga dan generasi berikutnya.
Di era modern 2026, pesantren-pesantren di Indonesia yang mengikuti jejak Zubair—berinvestasi di tanah dan bangunan dengan strategi jangka panjang—adalah pesantren yang akan sustain dan terus berkembang. Mereka tidak bergantung pada donasi atau subsidi pemerintah yang bisa berubah sewaktu-waktu. Mereka memiliki aset produktif yang menghasilkan income berkelanjutan. Budi Ashari mengingatkan: "Zubair berutang karena tahu asetnya juga besar. Tapi hati-hati, tidak boleh bumi Allah dibuat kosong, rumah dibeli tapi kosong atas nama investasi. Itu dosa besar."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!