VISI | Zubair bin Awwam: Pengusaha Real Estate dan Investor Cerdas
3. Investasi Jangka Panjang Zubair tidak membeli properti untuk di-flip (jual cepat). Ia memegang aset-asetnya dalam jangka panjang, membiarkan nilai properti terapresiasi seiring waktu. "Real estate is not about timing the market, but time in the market"—bukan tentang timing yang tepat, tetapi tentang berapa lama Anda memegang aset.
4. Menggunakan Leverage dengan Bijak Zubair menggunakan utang produktif—meminjam uang untuk membeli aset yang menghasilkan, bukan untuk konsumsi. Ia berutang bukan karena gaya hidup boros, tetapi karena strategi investasi. Dan debt to asset ratio-nya sangat sehat, hanya 4 persen.
5. Sistem Halal: Mudharabah, Bukan Riba Yang paling penting, Zubair tidak menggunakan sistem riba. Ia menggunakan akad mudharabah—sistem bagi hasil yang adil. Orang yang menitipkan uang kepadanya tidak mendapat bunga tetap, tetapi bagi hasil sesuai kesepakatan. Ini adalah cikal bakal dari sistem investasi syariah modern.
Budi Ashari, seorang ulama, menjelaskan: "Secara tidak langsung Zubair bin Awwam mengajari umat Islam cara berinvestasi. Namun, perlu diperhatikan, Zubair berutang karena tahu asetnya juga besar. Tapi hati-hati berpikir investasi, yang kemudian dianggurkan, menganggur. Tidak boleh bumi Allah dibuat kosong, rumah dibeli tapi kosong, rusak atas nama investasi. Itu dosa besar."
Ini adalah peringatan penting: investasi properti harus produktif, bukan spekulatif yang merugikan masyarakat.
Aplikasi Modern: Pesantren yang Investasi Tanah/Bangunan untuk Masa Depan
Prinsip investasi properti Zubair bin Awwam kini dipraktikkan dengan sangat baik oleh banyak pesantren di Indonesia. Mereka tidak hanya fokus pada pendidikan agama, tetapi juga membangun aset properti jangka panjang untuk keberlanjutan pesantren.
Pesantren Gontor: Strategi Akuisisi Tanah Sejak Dini
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!