VISI | Wibawa, Ketika Pemimpin Tak Lagi Disegani
Ada pepatah sederhana yang sangat relevan dalam kepemimpinan: Apa yang dikatakan harus sejalan dengan apa yang dilakukan. Inilah konsistensi. Jika seorang Ketua OSIS berkata disiplin, ia harus datang tepat waktu. Jika berkata bersih, ia harus menjaga kebersihan. Jika meminta anggota jujur, ia harus menjadi orang pertama yang jujur. Jika meminta anggota menerima kritik, ia harus membuka diri ketika dikritik. Kesenjangan antara ucapan dan tindakan adalah salah satu penyebab paling cepat runtuhnya wibawa.
Anak-anak sangat peka terhadap kemunafikan. Mereka mungkin belum mampu menjelaskannya secara akademik, tetapi mereka bisa merasakannya. Ketika pemimpin berkata satu hal tetapi melakukan hal lain, kepercayaan mulai retak. Dan ketika kepercayaan retak, wibawa perlahan hilang.
Sebagai pendidik sekaligus praktisi hipnoterapi dan NLP, penulis semakin memahami bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengelola emosi. Pemimpin yang mudah meledak kehilangan kendali. Pemimpin yang mudah tersinggung sulit menerima kritik. Pemimpin yang selalu merasa dirinya benar akan sulit belajar. Sebaliknya, pemimpin yang mampu berhenti sejenak sebelum bereaksi biasanya lebih mampu mengambil keputusan.
Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua kritik harus dilawan. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Kadang diam adalah bentuk pengendalian diri. Kadang meminta maaf adalah bentuk keberanian. Kadang mundur adalah bentuk kehormatan. Dan kadang mengakui: "Saya keliru." adalah bentuk wibawa yang paling tinggi.
Jangan Takut Kehilangan Jabatan
Penulis selalu berpesan kepada peserta didik: Jangan mengejar jabatan. Kejarlah kualitas diri. Kalau suatu hari kalian dipercaya menjadi Ketua OSIS, jalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Kalau suatu hari kalian tidak terpilih, jangan berkecil hati. Kalau suatu hari masa jabatan berakhir, serahkan dengan lapang dada. Karena manusia tidak diukur dari berapa lama ia memegang jabatan. Manusia diukur dari apa yang ia lakukan ketika memegang amanah. Ada pemimpin yang hanya menjabat satu tahun, tetapi dikenang puluhan tahun. Ada pula yang menjabat sangat lama, tetapi tidak meninggalkan keteladanan. Maka jangan takut kehilangan kursi. Takutlah kehilangan kehormatan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!