VISI | Wibawa, Ketika Pemimpin Tak Lagi Disegani

Desi Rossilawati
Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:01 WIB
Bagikan
VISI | Wibawa, Ketika Pemimpin Tak Lagi Disegani

Wibawa Bukan Ketakutan

Ada pemimpin yang disegani karena wibawa. Ada pula yang ditaati karena ketakutan. Keduanya tampak sama dari luar, tetapi sesungguhnya sangat berbeda. Orang yang takut kepada pemimpin akan patuh ketika diawasi. Namun ketika pemimpin pergi, kepatuhan itu ikut pergi. Sebaliknya, orang yang menghormati pemimpinnya tetap menjalankan tanggung jawab meskipun sang pemimpin tidak berada di tempat. Inilah perbedaan antara kekuasaan dan wibawa. Kekuasaan membuat orang menurut. Wibawa membuat orang percaya. Kekuasaan dapat diperoleh melalui jabatan. Wibawa harus diperoleh melalui proses. Karena itu penulis selalu mengingatkan pengurus OSIS agar jangan sibuk mengejar posisi. Kejar kepercayaan. Sebab posisi bisa diberikan. Tetapi kepercayaan harus diperjuangkan.

Ada satu kondisi yang menurut penulis harus menjadi alarm bagi seorang pemimpin. Ketika orang-orang yang dipimpinnya mulai tidak lagi menghormati. Bahkan lebih buruk lagi, ketika pemimpin mulai diparodikan, diolok-olok, atau dijadikan bahan lelucon oleh orang-orang yang seharusnya berada dalam barisannya. Tentu tidak semua olok-olok berarti hilangnya wibawa.

Humor dalam sebuah organisasi adalah sesuatu yang manusiawi. Tetapi apabila penghormatan telah benar-benar hilang, perintah tidak lagi dianggap, keputusan tidak lagi dipercaya, dan setiap perkataan pemimpin justru menjadi bahan ejekan, maka seorang pemimpin perlu melakukan introspeksi. Jangan buru-buru menyalahkan anggota. Jangan langsung mengatakan mereka tidak loyal. Jangan serta-merta menuduh mereka tidak tahu etika. Tanyakan kepada diri sendiri: "Apa yang menyebabkan mereka tidak lagi percaya kepada saya?" Pertanyaan itu jauh lebih dewasa daripada mencari kesalahan orang lain.

Pemimpin Harus Tahu Diri

Ada kalimat yang mungkin terdengar keras, tetapi menurut penulis sangat penting dalam pendidikan kepemimpinan: Seorang pemimpin harus tahu diri. Tahu kapan maju. Tahu kapan bertahan. Tahu kapan menerima kritik. Dan tahu kapan harus mundur. Mengundurkan diri dari jabatan bukan selalu berarti kalah. Kadang justru merupakan bentuk kemenangan moral. Jika seseorang merasa tidak lagi mampu menjalankan amanah, kemudian dengan kesatria mengatakan: "Saya tidak mampu melanjutkan. Saya memberikan kesempatan kepada yang lebih mampu."

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.