VISI | Wibawa, Ketika Pemimpin Tak Lagi Disegani

Desi Rossilawati
Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:01 WIB
Bagikan
VISI | Wibawa, Ketika Pemimpin Tak Lagi Disegani

Oleh: Drajat

•    Guru
•    Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
•    Wasekjen Komnasdik
•    Master Hipnoterapis
•    APKS PGRI Prov. Jabar

ADA satu kata yang hampir selalu penulis sampaikan ketika berbicara dengan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS: wibawa. Menjadi Ketua OSIS tidak cukup hanya pintar. Tidak cukup memiliki nilai akademik tinggi. Tidak cukup pandai berbicara. Tidak cukup pula populer dan memiliki banyak teman. Seorang pemimpin membutuhkan sesuatu yang tidak selalu dapat ditulis dalam rapor: wibawa.

Wibawa membuat seseorang didengar tanpa harus berteriak. Wibawa membuat orang mengikuti tanpa merasa dipaksa. Wibawa membuat seorang pemimpin dihormati bahkan ketika ia tidak sedang berada di depan. Namun wibawa bukan sesuatu yang dapat diminta. Ia tidak lahir karena seseorang memakai tanda pengenal Ketua OSIS. Ia tidak muncul karena seseorang duduk di kursi paling depan. Ia tidak tumbuh hanya karena sebuah jabatan diberikan. Wibawa lahir dari perilaku. Dan yang lebih penting, wibawa dapat dibangun, tetapi juga dapat hilang.

Di sekolah, seorang Ketua OSIS memperoleh mandat dari teman-temannya. Ia diberi kepercayaan untuk mengkoordinasikan program, menyampaikan aspirasi, dan menjadi salah satu wajah sekolah. Karena itu, penulis selalu mengingatkan: "Kalau kalian ingin dihormati, belajarlah menghormati." Jangan menuntut teman mendengarkan kalau kita sendiri tidak mau mendengarkan. Jangan meminta orang disiplin kalau kita sendiri sering terlambat. Jangan berbicara tentang kejujuran kalau kita masih gemar mencari alasan. Jangan meminta anggota bertanggung jawab kalau kita sendiri mudah melepaskan tanggung jawab.

Di situlah wibawa dibangun. Bukan melalui perintah, melainkan melalui keteladanan. Seorang pemimpin boleh memiliki kekurangan. Ia boleh melakukan kesalahan. Ia boleh sesekali salah mengambil keputusan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang: kesediaan memperbaiki diri.

Wibawa Bukan Ketakutan

Ada pemimpin yang disegani karena wibawa. Ada pula yang ditaati karena ketakutan. Keduanya tampak sama dari luar, tetapi sesungguhnya sangat berbeda. Orang yang takut kepada pemimpin akan patuh ketika diawasi. Namun ketika pemimpin pergi, kepatuhan itu ikut pergi. Sebaliknya, orang yang menghormati pemimpinnya tetap menjalankan tanggung jawab meskipun sang pemimpin tidak berada di tempat. Inilah perbedaan antara kekuasaan dan wibawa. Kekuasaan membuat orang menurut. Wibawa membuat orang percaya. Kekuasaan dapat diperoleh melalui jabatan. Wibawa harus diperoleh melalui proses. Karena itu penulis selalu mengingatkan pengurus OSIS agar jangan sibuk mengejar posisi. Kejar kepercayaan. Sebab posisi bisa diberikan. Tetapi kepercayaan harus diperjuangkan.

Ada satu kondisi yang menurut penulis harus menjadi alarm bagi seorang pemimpin. Ketika orang-orang yang dipimpinnya mulai tidak lagi menghormati. Bahkan lebih buruk lagi, ketika pemimpin mulai diparodikan, diolok-olok, atau dijadikan bahan lelucon oleh orang-orang yang seharusnya berada dalam barisannya. Tentu tidak semua olok-olok berarti hilangnya wibawa.

Humor dalam sebuah organisasi adalah sesuatu yang manusiawi. Tetapi apabila penghormatan telah benar-benar hilang, perintah tidak lagi dianggap, keputusan tidak lagi dipercaya, dan setiap perkataan pemimpin justru menjadi bahan ejekan, maka seorang pemimpin perlu melakukan introspeksi. Jangan buru-buru menyalahkan anggota. Jangan langsung mengatakan mereka tidak loyal. Jangan serta-merta menuduh mereka tidak tahu etika. Tanyakan kepada diri sendiri: "Apa yang menyebabkan mereka tidak lagi percaya kepada saya?" Pertanyaan itu jauh lebih dewasa daripada mencari kesalahan orang lain.

Pemimpin Harus Tahu Diri

Ada kalimat yang mungkin terdengar keras, tetapi menurut penulis sangat penting dalam pendidikan kepemimpinan: Seorang pemimpin harus tahu diri. Tahu kapan maju. Tahu kapan bertahan. Tahu kapan menerima kritik. Dan tahu kapan harus mundur. Mengundurkan diri dari jabatan bukan selalu berarti kalah. Kadang justru merupakan bentuk kemenangan moral. Jika seseorang merasa tidak lagi mampu menjalankan amanah, kemudian dengan kesatria mengatakan: "Saya tidak mampu melanjutkan. Saya memberikan kesempatan kepada yang lebih mampu."

Bukankah itu tindakan terhormat? Sayangnya, budaya seperti ini sering sulit ditemukan dalam kehidupan publik. Ada orang yang ketika kehilangan kepercayaan justru semakin keras mempertahankan kedudukan. Kritik dianggap serangan. Pertanyaan dianggap pembangkangan. Evaluasi dianggap ancaman. Padahal seorang pemimpin yang benar-benar kuat seharusnya tidak takut kehilangan jabatan. Ia justru takut kehilangan kepercayaan.

Menariknya, pelajaran tentang wibawa justru dapat kita mulai dari sekolah. Dalam OSIS, seorang Ketua dipilih untuk menjalankan amanah yang waktunya terbatas. Ketika masa kepengurusan selesai, ia harus menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya. Tidak ada yang perlu dipertahankan mati-matian. Tidak ada yang harus merasa bahwa dirinya satu-satunya orang yang mampu memimpin. Justru salah satu keberhasilan seorang Ketua OSIS adalah ketika ia berhasil menyiapkan kader yang lebih baik setelah dirinya. Pemimpin yang baik tidak takut digantikan. Ia bangga jika penerusnya lebih hebat. Sebab tujuan kepemimpinan bukan membuat nama pemimpin terus dikenang, melainkan memastikan organisasi tetap berjalan meskipun pemimpinnya sudah tidak menjabat.

Pertanyaan tentang wibawa tidak berhenti di sekolah. Ia relevan dalam kehidupan berbangsa. Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa seluruh pemimpin negeri kehilangan wibawa. Banyak penyelenggara negara yang bekerja sungguh-sungguh, menjaga integritas, dan tetap mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Namun kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa kepercayaan publik terhadap lembaga dan pejabat dapat mengalami pasang surut. Berbagai survei opini publik dari waktu ke waktu memperlihatkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap institusi sangat dipengaruhi oleh persepsi terhadap integritas, kinerja, transparansi, dan kemampuan menyelesaikan persoalan. Artinya, wibawa negara bukan hanya persoalan simbol.

Wibawa negara dibangun dari pelayanan. Dari keadilan. Dari ketegasan yang benar. Dari kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan terutama dari keteladanan para pemimpinnya. Pemimpin yang gemar berbicara tentang kejujuran tetapi tersandung persoalan integritas tentu akan mengalami persoalan wibawa. Pemimpin yang meminta rakyat menaati aturan tetapi dirinya sendiri tidak memberikan teladan akan kehilangan kekuatan moral. Pemimpin yang terus mempertahankan diri ketika kritik datang dari berbagai arah harus bertanya: Apakah yang sedang dipertahankan itu amanah atau sekadar jabatan?

Ada pepatah sederhana yang sangat relevan dalam kepemimpinan: Apa yang dikatakan harus sejalan dengan apa yang dilakukan. Inilah konsistensi. Jika seorang Ketua OSIS berkata disiplin, ia harus datang tepat waktu. Jika berkata bersih, ia harus menjaga kebersihan. Jika meminta anggota jujur, ia harus menjadi orang pertama yang jujur. Jika meminta anggota menerima kritik, ia harus membuka diri ketika dikritik. Kesenjangan antara ucapan dan tindakan adalah salah satu penyebab paling cepat runtuhnya wibawa.

Anak-anak sangat peka terhadap kemunafikan. Mereka mungkin belum mampu menjelaskannya secara akademik, tetapi mereka bisa merasakannya. Ketika pemimpin berkata satu hal tetapi melakukan hal lain, kepercayaan mulai retak. Dan ketika kepercayaan retak, wibawa perlahan hilang.

Sebagai pendidik sekaligus praktisi hipnoterapi dan NLP, penulis semakin memahami bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan mengelola emosi. Pemimpin yang mudah meledak kehilangan kendali. Pemimpin yang mudah tersinggung sulit menerima kritik. Pemimpin yang selalu merasa dirinya benar akan sulit belajar. Sebaliknya, pemimpin yang mampu berhenti sejenak sebelum bereaksi biasanya lebih mampu mengambil keputusan.

Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua kritik harus dilawan. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Kadang diam adalah bentuk pengendalian diri. Kadang meminta maaf adalah bentuk keberanian. Kadang mundur adalah bentuk kehormatan. Dan kadang mengakui: "Saya keliru." adalah bentuk wibawa yang paling tinggi.

Jangan Takut Kehilangan Jabatan

Penulis selalu berpesan kepada peserta didik: Jangan mengejar jabatan. Kejarlah kualitas diri. Kalau suatu hari kalian dipercaya menjadi Ketua OSIS, jalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Kalau suatu hari kalian tidak terpilih, jangan berkecil hati. Kalau suatu hari masa jabatan berakhir, serahkan dengan lapang dada. Karena manusia tidak diukur dari berapa lama ia memegang jabatan. Manusia diukur dari apa yang ia lakukan ketika memegang amanah. Ada pemimpin yang hanya menjabat satu tahun, tetapi dikenang puluhan tahun. Ada pula yang menjabat sangat lama, tetapi tidak meninggalkan keteladanan. Maka jangan takut kehilangan kursi. Takutlah kehilangan kehormatan.

Pada akhirnya, wibawa tidak membutuhkan panggung. Ia tidak membutuhkan suara keras. Ia tidak membutuhkan pengawalan. Ia bahkan tidak membutuhkan jabatan. Seorang guru yang sederhana dapat memiliki wibawa di hadapan ribuan murid. Seorang Ketua OSIS dapat disegani meskipun usianya masih belasan tahun. Seorang pemimpin dapat dihormati meskipun tidak banyak bicara. Sebab wibawa bukan perkara seberapa tinggi seseorang berdiri. Wibawa adalah seberapa kuat nilai yang ia pegang. Dan jika suatu hari seorang pemimpin mulai tidak dipercaya, mulai diabaikan, bahkan mulai menjadi bahan olok-olok orang yang dipimpinnya, jangan buru-buru menyalahkan mereka. Duduklah sejenak. Bercerminlah. Tanyakan: "Masih pantaskah saya memimpin?"

Jika jawabannya masih, perbaikilah diri. Jika jawabannya tidak, beranilah mengambil keputusan. Mundur dengan terhormat jauh lebih mulia daripada bertahan dengan kehilangan kehormatan. Sebab jabatan dapat diberikan dan dicabut oleh manusia. Tetapi wibawa adalah sesuatu yang dibangun oleh diri sendiri dan dipelihara melalui keteladanan.

Dan barangkali inilah pelajaran paling penting yang harus kita tanamkan kepada pengurus OSIS hari ini, agar ketika kelak mereka menjadi pemimpin bangsa, mereka tidak hanya tahu bagaimana mendapatkan kekuasaan, tetapi juga tahu bagaimana menjaga kehormatan. Jangan sampai seorang pemimpin memiliki jabatan, tetapi kehilangan wibawa. Karena ketika jabatan masih ada tetapi wibawa telah hilang, yang tersisa hanyalah kursi. Dan kursi, setinggi apa pun kedudukannya, tidak pernah dengan sendirinya membuat seseorang layak dihormati.**

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.