VISI | Temukan Cinta
Ada satu kejujuran yang juga perlu disampaikan: tidak semua orang harus bertahan di tempat yang sama selamanya. Jika setelah semua upaya dilakukan cinta tak juga tumbuh, kenyamanan tak juga hadir, dan pekerjaan justru menjadi sumber luka yang terus menggerogoti, maka berpindah bukanlah dosa.
Berani mencari “pelabuhan hari yang baru” adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Lebih baik berpindah dengan kepala tegak daripada bertahan sambil mematikan jiwa. Dunia membutuhkan orang-orang yang bekerja dengan cinta, bukan sekadar hadir secara fisik.
Awal tahun adalah momentum refleksi. Bukan hanya tentang target dan resolusi, tetapi tentang makna. Tentang mengapa kita bangun setiap pagi. Tentang alasan kita memilih jalan hidup yang sedang kita jalani.
“Temukan cinta,” bukan sekadar slogan motivasi, melainkan ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri. Cinta pada pekerjaan adalah bahan bakar jangka panjang. Tanpanya, sehebat apa pun kemampuan akan cepat habis.
Bagi para guru, temukan kembali cinta itu—di kelas, di wajah murid-murid, di setiap proses kecil yang sering luput dari perhatian. Karena ketika guru bekerja dengan cinta, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa utuh kita menjalani perjalanan. Jika pekerjaan adalah bagian besar dari hidup, maka mencintainya—atau setidaknya berusaha menemukannya—adalah bentuk paling jujur dari rasa syukur.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!