VISI | Temukan Cinta
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
APA kabar perjalanan hidup kita di tahun yang telah berlalu? Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya sering kali rumit. Kita sibuk menghitung capaian, mengejar target, dan menumpuk lelah, namun lupa menengok satu hal paling mendasar dalam hidup manusia: apakah kita masih mencintai apa yang kita jalani?
Bukan sekadar cinta romantis yang sering dipuja dalam lagu dan puisi, melainkan cinta sejati dalam pekerjaan—cinta yang membuat seseorang tetap berdiri meski badai datang bertubi-tubi. Di awal tahun, saat lembaran kalender kembali putih dan harapan disematkan dengan doa-doa baru, barangkali inilah saat paling jujur untuk bertanya pada diri sendiri: apakah pekerjaan yang saya jalani masih saya cintai?
Banyak orang bekerja karena terpaksa. Ada yang karena kebutuhan ekonomi, tekanan sosial, tuntutan keluarga, atau sekadar “sudah terlanjur”. Tidak sedikit pula yang berangkat kerja setiap pagi dengan wajah letih bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Pekerjaan dijalani seperti rutinitas mekanis—datang, duduk, menunggu waktu pulang, lalu mengulanginya keesokan hari.
Padahal, pekerjaan sejatinya adalah bagian besar dari hidup kita. Ia menyita waktu, tenaga, pikiran, bahkan emosi. Jika bagian terbesar dari hidup dijalani tanpa cinta, bukankah itu bentuk kelelahan yang paling sunyi?
Cinta pada pekerjaan bukan berarti semuanya harus selalu indah dan tanpa masalah. Cinta justru diuji ketika lelah datang, ketika hasil tidak sebanding dengan usaha, ketika apresiasi terasa jauh panggang dari api. Namun, cinta membuat seseorang bertahan, memperbaiki diri, dan menemukan makna di balik setiap proses.
Guru dan Panggilan Hati
Bagi seorang guru, pertanyaan tentang cinta pada pekerjaan menjadi jauh lebih serius. Mengajar bukan sekadar profesi; ia adalah panggilan nurani. Di tangan guru, masa depan anak-anak bangsa dipertaruhkan. Di ruang kelas, nilai-nilai kehidupan ditanamkan, bukan hanya pengetahuan.
Namun, tidak dapat dimungkiri, realitas pendidikan sering kali menggerus idealisme. Beban administrasi menumpuk, kebijakan berubah-ubah, kesejahteraan tak selalu sebanding dengan tanggung jawab, dan penghargaan kerap terasa minim. Dalam situasi seperti ini, cinta pada profesi diuji habis-habisan.
Jika seorang guru kehilangan cinta pada pekerjaannya, yang lahir bukan hanya kelelahan pribadi, tetapi juga kehampaan dalam proses belajar-mengajar. Anak-anak akan merasakannya—kelas menjadi dingin, interaksi kehilangan makna, dan pendidikan berubah menjadi sekadar formalitas.
Namun hidup tidak selalu hitam-putih. Tidak semua orang langsung menemukan cinta sejati dalam pekerjaannya. Jika cinta belum juga hadir, jangan langsung menyerah. Ada tahapan-tahapan kecil yang bisa menjadi jembatan menuju cinta itu sendiri.
Jika belum mencintai pekerjaan, cintailah orang-orang di sekitar kita. Rekan kerja yang saling menyapa, saling menguatkan, dan tertawa bersama sering kali menjadi alasan seseorang bertahan. Lingkungan kerja yang manusiawi bisa menghidupkan kembali semangat yang nyaris padam.
Jika itu pun belum cukup, cintailah lingkungan tempat kita bekerja. Pepohonan di halaman sekolah, lapangan olahraga, ruang kelas yang sederhana, atau sudut perpustakaan yang sunyi—semua itu bisa menjadi sumber rindu. Lingkungan yang dirawat dengan hati sering kali memulihkan jiwa yang lelah.
Jika belum juga menemukannya, cintailah meja kerja kita. Di sanalah tersimpan jejak perjalanan: foto kebersamaan, coretan rencana, buku-buku yang menemani sepi. Meja kerja bukan sekadar furnitur; ia adalah saksi bisu perjuangan.
Jika masih terasa hampa, nikmatilah perjalanan menuju tempat kerja. Jalan pagi, udara segar, sapaan tetangga, atau secangkir kopi sebelum berangkat—hal-hal kecil ini sering kali menjadi energi yang terlupakan.
Dan jika semua itu belum juga menumbuhkan cinta, cintailah peserta didik kita. Tawa mereka, pertanyaan polos mereka, dan mimpi-mimpi sederhana yang mereka titipkan pada kita adalah alasan paling jujur untuk tetap bertahan. Di sanalah sering kali cinta sejati seorang guru kembali ditemukan.
Ada satu kejujuran yang juga perlu disampaikan: tidak semua orang harus bertahan di tempat yang sama selamanya. Jika setelah semua upaya dilakukan cinta tak juga tumbuh, kenyamanan tak juga hadir, dan pekerjaan justru menjadi sumber luka yang terus menggerogoti, maka berpindah bukanlah dosa.
Berani mencari “pelabuhan hari yang baru” adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Lebih baik berpindah dengan kepala tegak daripada bertahan sambil mematikan jiwa. Dunia membutuhkan orang-orang yang bekerja dengan cinta, bukan sekadar hadir secara fisik.
Awal tahun adalah momentum refleksi. Bukan hanya tentang target dan resolusi, tetapi tentang makna. Tentang mengapa kita bangun setiap pagi. Tentang alasan kita memilih jalan hidup yang sedang kita jalani.
“Temukan cinta,” bukan sekadar slogan motivasi, melainkan ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri. Cinta pada pekerjaan adalah bahan bakar jangka panjang. Tanpanya, sehebat apa pun kemampuan akan cepat habis.
Bagi para guru, temukan kembali cinta itu—di kelas, di wajah murid-murid, di setiap proses kecil yang sering luput dari perhatian. Karena ketika guru bekerja dengan cinta, pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa utuh kita menjalani perjalanan. Jika pekerjaan adalah bagian besar dari hidup, maka mencintainya—atau setidaknya berusaha menemukannya—adalah bentuk paling jujur dari rasa syukur.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!