VISI | Suara Kritis Terintimidasi

ED
Jumat, 18 Juli 2025 | 08:54 WIB
Bagikan
VISI | Suara Kritis Terintimidasi

Oleh Aep S. Abdullah

HARI HARI ini, menyuarakan pendapat—terutama kepada penguasa atau mereka yang masih memiliki pengaruh kekuasaan—masih sering dihadapkan pada tembok intimidasi, pembungkaman, dan serangan balik, baik secara terang-terangan maupun melalui cara yang terselubung. Fenomena ini bukan hanya merusak semangat demokrasi, tapi juga menghambat pembelajaran publik yang sehat.

Direktur Eksekutif Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia, Neni Nur Hayati belum lama ini mengaku mendapatkan serangan dari akun-akun buzzer setelah dirinya mengkritisi Gubernur Jawa Barat, KDM. Serangan yang sistematis ini bukan saja menyasar argumentasinya, tetapi juga menyerang secara personal dan digital. Ini adalah pola klasik: mengalihkan diskusi substansial menjadi ajang persekusi terhadap tokoh yang bersuara kritis.

Sekarang, publik juga dikejutkan oleh pernyataan mantan Rektor UGM, Prof. Dr. Sofian Effendi, yang secara tiba-tiba mencabut semua ucapannya di YouTube terkait ijazah Presiden Joko Widodo. Dalam pernyataan tertulisnya, Prof. Sofian menyatakan mencabut seluruh opini publiknya tanpa alasan yang mendalam, yang menimbulkan spekulasi bahwa tekanan kekuasaan bisa saja berada di balik keputusan itu.

Teori komunikasi dari Jurgen Habermas sangat relevan dalam kasus ini. Ia memperkenalkan konsep public sphere sebagai ruang di mana warga negara dapat berdiskusi dan menyampaikan pendapat secara rasional dan terbuka. Namun ketika ruang publik itu dibanjiri oleh intimidasi, manipulasi, dan ancaman, maka yang terjadi bukan diskusi demokratis, melainkan dominasi kekuasaan terhadap opini rakyat.

Filsuf John Stuart Mill, dalam On Liberty, dengan tegas menyatakan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat adalah kunci untuk mencegah kesewenang-wenangan kekuasaan. Baginya, bahkan pendapat yang "salah" sekalipun perlu dibiarkan hidup dalam ruang publik, agar melalui perdebatan dan bantahan, kebenaran bisa mengemuka. Menutup ruang itu berarti membunuh kemungkinan perbaikan sosial.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.