VISI | Suara Kritis Terintimidasi
Ironisnya, banyak pemimpin yang mengaku pro-demokrasi justru menjadikan popularitas media sosial sebagai benteng kekuasaan, bukan sarana keterbukaan. Mereka menggunakan pengikut, buzzer, bahkan AI untuk membentuk citra, bukan mendengarkan aspirasi. Padahal popularitas bukan jaminan kebenaran, dan pujian bukan ukuran keberhasilan.
Intimidasi dalam mengungkapkan pendapat bukan hanya ancaman bagi individu, tetapi juga bagi institusi demokrasi itu sendiri. Jika rakyat tidak lagi percaya bahwa mereka bisa bicara tanpa dibungkam, maka legitimasi kekuasaan akan kehilangan pijakannya. Demokrasi tanpa kritik akan menjelma menjadi otoritarianisme yang membungkus dirinya dalam jargon "stabilitas".
Sudah waktunya kita mendorong reformasi dalam perlindungan terhadap kebebasan berpendapat, baik melalui regulasi digital yang adil maupun penguatan literasi masyarakat. Negara tidak bisa lagi berpura-pura netral ketika buzzer yang memproduksi ketakutan beroperasi secara sistematis. Demokrasi harus berpihak pada keberanian menyuarakan kebenaran.
Kesadaran publik adalah benteng terakhir kita. Kita perlu mendukung mereka yang berani bersuara, bukan meninggalkan mereka sendirian diserang. Karena hari ini kita diam ketika orang lain dibungkam, besok mungkin giliran kita yang tak lagi bisa bicara.
Intimidasi mungkin masih menjadi senjata favorit mereka yang takut kehilangan kuasa. Tapi sejarah membuktikan: suara kebenaran, meski ditekan, akan terus menemukan jalannya. Yang perlu kita jaga adalah agar suara itu tidak padam karena kita sendiri memilih bungkam.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!