VISI | RUU Sisdiknas: Doktor Wajib, Kampus Rapuh?
Sejarah peradaban dunia tidak pernah mencatat bahwa kecerdasan lahir dari rahim lembaran kertas formalitas. Tokoh-tokoh besar yang merubah arah zaman—para filsuf, ilmuwan, hingga bapak bangsa kita sendiri—tidak menukar dunia dengan ijazah bertingkat-tingkat, melainkan dengan ketajaman berpikir dan kematangan skill yang menghidupkan kemanusiaan. Mengerdilkan esensi kecerdasan menjadi sekadar deretan gelar akademis kaku adalah penyempitan esensi ilmu itu sendiri.
Sebagai penutup, ada sedikit puisi getir dari hasil mengejaku untuk para pembuat kebijakan:
"Tinta hukum telah kau goreskan dari atas kursi empukmu,Kau paksakan mahkota doktor di atas kepala kami yang berdebu. Tanpa kau tahu, meja mengajar kami sudah lama goyah. Dan periuk nasi di rumah kami sering kali pasrah.
Sejarah mencatat peradaban dibangun oleh kemampuan. Bukan oleh tumpukan kertas penanda kelulusan. Turunlah sejenak, lihatlah mimbar kami yang retak. Sebelum nalar di negeri ini benar-benar sekarat".
Benahi dahulu martabat dan kesejahteraan pengajarnya, maka mutu pendidikan akan tumbuh mekar dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa oleh selembar ijazah kaku.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!