VISI | Pers: Sebuah Catatan Kecil untuk Kang Dedi Mulyadi
Apakah ini yang kita inginkan dari pemimpin Jawa Barat—daerah dengan lebih dari 48 juta jiwa penduduk yang majemuk, kritis, dan dinamis? Gubernur bukan selebriti, ia bukan juga pendongeng. Ia adalah pengelola negara mini yang butuh kritik agar tidak salah arah.
Dalam demokrasi, pujian yang terlalu banyak bisa sama berbahayanya dengan caci maki yang berlebihan. Karena itu, pers harus tetap ada, dan tetap hidup. Bukan hanya hidup secara simbolik, tapi juga hidup secara finansial, struktural, dan hukum.
Akhirnya, saya ingin mengingatkan: bahkan Tuhan saja memberi ruang bagi iblis untuk berbicara. Maka jangan biarkan seorang pemimpin memonopoli narasi dan membungkam semua yang tak sependapat. Karena jika itu terjadi, kita bukan sedang hidup dalam demokrasi—melainkan dalam tirani yang dibungkus citra.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!