VISI | Pers: Sebuah Catatan Kecil untuk Kang Dedi Mulyadi
Oleh Aep S. Abdullah
ADA kisah klasik dari masa Kekaisaran Romawi tentang seorang jenderal yang menang perang dan diarak keliling kota. Di belakang kereta kemenangannya, berdiri seorang budak yang terus-menerus mengingatkan: "Ingat, engkau hanya manusia." Fungsinya satu: agar sang jenderal tak mabuk pujian. Dalam sistem demokrasi modern, peran itu dimainkan oleh pers.
Sayangnya, saya mulai meragukan apakah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memahami pentingnya peran ini. Ketika ia dengan bangga memotong anggaran media dari Rp 50 miliar menjadi hanya Rp 3 miliar. Saya melihat sinyal yang mengkhawatirkan: pelemahan sistem kontrol sosial yang sah dalam demokrasi.
Sebagian pihak mungkin akan menyambut baik efisiensi anggaran ini. Tapi mari jujur: apakah efisiensi itu ditujukan untuk memperkuat pelayanan publik atau sekadar menyingkirkan suara-suara yang tak menyenangkan telinga?
Meski visi.news tak pernah mencicipi anggaran iklan atau pariwara dari Diskominfo Jabar, tapi sangat menyayangkan pemangkasan itu, karena akan memperlemah keberlangsungan media. Bahkan bisa menjadikan media yang selama ini hidup dari kerjasama iklan atau pariwara Pemprov Jabar, bubar. Pemangkasan ini bukan soal untung-rugi media. Ini soal keberpihakan pada kebebasan berpendapat. Jika anggaran komunikasi publik dikerdilkan, maka kanal kritik pun dipersempit. Siapa yang akan berani lantang bersuara bila ruangnya disempitkan?
Anggaran media bukan cuma soal publikasi kegiatan pemerintah. Ia adalah ruang pertarungan wacana, tempat masyarakat melihat bahwa pemerintah tak kebal kritik. Saat Gubernur memotong dana ini, ia tak hanya mematikan lampu panggung, tapi juga membungkam pemusik yang memainkan nada sumbang.
Kang Dedi nampaknya lebih besar memberikan anggaran untuk pentas seni dan budaya ketimbang membesarkan pers sebagai partner untuk menjaga karir politiknya. Yang dikhawatirkan, sebagai "aset" Jawa Barat, Kang Dedi lebih senang dipuji ketimbang diingatkan kalau salah melangkah. Kita sudah kehilangan aset politik asal Jabar itu, ketika Ridwan Kamil, yang dulu di puji-puji, dengan 21,5 juta follower Instagram dan 3,7 juta pengikut facebooknya, akibat mempersempit ruang kritik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!