VISI | Pers: Sebuah Catatan Kecil untuk Kang Dedi Mulyadi

ED
Minggu, 4 Mei 2025 | 07:20 WIB
Bagikan
VISI | Pers: Sebuah Catatan Kecil untuk Kang Dedi Mulyadi

Pers adalah pilar keempat demokrasi. Dalam Pasal 3 UU Pers No. 40 Tahun 1999 disebutkan bahwa fungsi pers adalah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Kontrol sosial—ini yang tampaknya mulai tidak nyaman bagi Gubernur.

Contohnya ketika Kang Dedi Mulyadi meminta sekolah tidak menahan ijazah siswa yang menunggak. Narasinya populis. Tetapi tak menyentuh akar masalah. Bagaimana dengan sekolah swasta yang bergantung pada uang tunggakan itu untuk menggaji guru, memperbaiki fasilitas, atau bahkan sekadar membayar listrik?

Kebijakan tanpa solusi struktural hanya akan melahirkan kebingungan. Guru-guru yang seharusnya mendidik, malah dipaksa berperan sebagai penagih utang. Sementara Gubernur bisa berdiri gagah, seolah pembela rakyat kecil.

Sama seperti nasib pers di Jabar nantinya. Gubernur dapat pujian, orang tua dan siswa nunggak bisa tertawa, sementara sekolahnya makin terpuruk.

Begitu juga ketika ia memarahi siswa nakal. Di permukaan, publik bersorak: ini pemimpin tegas! Tapi, apakah kita bertanya kenapa siswa itu nakal? Apakah kita menyentuh soal ibu-ibu yang harus bekerja dua shift demi menyambung hidup, hingga tak sempat mendampingi anaknya belajar atau berbicara? Ibu sebagai pembentuk watak anak, dihabiskan waktunya untuk survive mencari nafkah

Seorang pemimpin sejati tak hanya menegur hasil, tapi mengobati akar persoalan. Dan untuk itu, ia butuh media yang berani menunjukkan cacat, bukan hanya memuja wajah tampan atau gaya bicara yang memikat.

Pemotongan anggaran media ini akan membuat banyak media lokal tak sanggup bertahan. Dalam laporan Dewan Pers tahun 2023, sekitar 40% media daring lokal di Indonesia bergantung pada kerja sama pemerintah daerah. Tanpa itu, mereka kesulitan membiayai liputan investigasi atau membayar jurnalis secara layak.

Dan ketika media lokal tumbang, maka yang tertinggal adalah suara tunggal: suara kekuasaan. Kita akan kehilangan dinamika wacana, kehilangan sparring partner yang membuat pemimpin tetap membumi.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.