VISI | Percetakan dan Media Santri: Dari Dakwah ke Industri Kreatif

ED
Rabu, 10 Desember 2025 | 07:02 WIB
Bagikan
VISI | Percetakan dan Media Santri: Dari Dakwah ke Industri Kreatif

Sementara dunia digital berkembang, bisnis tradisional pesantren tetap kokoh. Percetakan Menara Kudus, yang berdiri sejak 1951, membuktikan bahwa mencetak kitab dan buku Islam adalah ibadah yang menghasilkan. Selama lebih dari 70 tahun, mereka bertahan dengan misi melestarikan khazanah keilmuan Islam.

Sidogiri Penerbit juga menunjukkan bahwa pesantren bisa mengelola penerbitan sendiri—mencetak kitab untuk internal sekaligus melayani pesantren lain. Ini menciptakan siklus ekonomi berkelanjutan.

Gus Miftah dari Magelang bercerita: "Kami kini cetak kitab sendiri dengan percetakan pesantren. Lebih murah, kualitas bagus, dan hasilnya bisa dijual ke pesantren lain. Win-win solution!"

Content Creator Santri: Potensi 50 Ribu Kreator Baru

Mantan Menteri Pariwisata Sandiaga Uno punya visi menarik: "Bayangkan jika satu persen saja dari total lima juta santri bisa membuat konten kreatif digital yang bermanfaat untuk umat, itu berarti ada tambahan 50 ribu konten kreator baru di Indonesia!"

Dan ini bukan mimpi. Pesantren Nur El Falah Serang sudah punya channel YouTube dengan ribuan subscriber. Konten mereka: kajian ustadz, tutorial ibadah, vlog keseharian santri—semua digarap santri sendiri!

Yang menarik? Mereka cukup pakai HP biasa. Dengan aplikasi gratis seperti CapCut dan Canva, santri sudah bisa produksi konten berkualitas. Fatimah tadi? Videonya ditonton 50 ribu orang dalam seminggu. "Alhamdulillah, dari satu video, ratusan orang komen berterima kasih karena jadi paham cara berwudhu yang benar," katanya bangga.

Motivasi Islami: Dakwah di Era Digital

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.