VISI | Penilaian Subjektif dan Objektif
Oleh Idat Mustari
SERING kita mendengar istilah “Subjektif dan Objektif”, terutama saat membicarakan soal pendapat, penilaian hingga pengambilan keputusan. Penilaian subjektif dan objektif berlaku di ruang manapun, di ruang bisnis, pendidikan, politik, bahkan penilaian pada diri sendiri. Begitupun ada kalanya orang bicara,”Jika menilai seseorang harus objektif jangan subjektif”. Seperti menegaskan bahwa penilaian subjektif berkonotasi negatif dan tidak baik.
Subjektif berasal dari kata subjek, yang merujuk pada individu atau orang yang memiliki pandangan atau perasaan tertentu. Maka, sesuatu yang bersifat subjektif sangat dipengaruhi oleh pendapat pribadi, emosi dan pengalaman seseorang. Penilaian subjektif itu sangat personal artinya bisa saja bagus menurut seseorang, tidak bagus menurut yang lainnya.
Sementara itu, objektif berasal dari kata objek, artinya sesuatu yang berada di luar diri kita dan dapat dilihat atau dinilai secara netral. Penilaian objektif itu berdasarkan data, fakta atau KPI. Penilaian objektif kelebihannya bisa diuji oleh siapapun dan bisa dipertanggung jawabkan di depan publik karena jelas dan terukur.
Penilaian subjektif dan objektif sebenarnya bukan hal yang harus dipertentangkan sebab keduanya punya fungsi masing-masing. Misalnya penilaian seorang atasan pada karyawanya bisa menggabungkan dua penilaian ini. Mengukur kemampuan seorang karyawan dalam meraih target, bisa diukur persentasenya, ini menggunakan penilaian objektif. Seberapa besar kemampuan bekerjasama dengan karyawan lainnya, seberapa besar loyalitas, dedikasi ini menggunakan penilaian subjektif.
Penilaian seorang atasan pada bawahannya sangatlah baik jika mampu mengabungkan penilaian objektif dan subjektif. Karena dengan kombinasi keduanya bisa menjadi pendekatan yang baik untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang pemahaman dan kemampuan seorang karyawan.
Berita Terkait
Komentar (1)
Tulis Komentar
Suci
2 months agoSangat setuju dengan informasi tersebut👍🙏