VISI | Penghargaan Tepuk Tangan
Guru adalah profesi yang kerap dipuji, tetapi sering diabaikan. Disebut pahlawan tanpa tanda jasa, namun kerap diminta terus berkorban tanpa perlindungan. Dielu-elukan di podium, tetapi dilupakan dalam kebijakan nyata. Penghargaan “tepuk tangan” menjadi simbol paradoks itu. Riuh sesaat, senyap setelahnya. Padahal, pendidikan membutuhkan keberlanjutan, bukan hanya momentum. Guru inspiratif tidak lahir dari panggung, tetapi dari ruang sunyi bernama konsistensi.
Jika seorang guru mampu menembus panggung internasional, menulis puluhan buku, dan membawa nama daerah ke level global, bukankah seharusnya itu dijadikan modal kebijakan? Bukan hanya sertifikat, tetapi dukungan agar inspirasi itu menular, membumi, dan berdampak sistemik.
Tulisan ini mengajak kita merenung bersama. Menghargai bukan sekadar mengundang. Bukan sekadar menyebut nama. Bukan sekadar tepuk tangan. Menghargai adalah: menghormati waktu, menjaga martabat acara, memahami jerih payah penerima, dan berani memberi apresiasi yang pantas. Jika tidak, penghargaan akan kehilangan makna. Ia menjadi ritual kosong, sekadar dokumentasi, lalu dilupakan. Penulis tetap bersyukur. Sertifikat itu akan disimpan rapi. Tepuk tangan itu akan dikenang sebagai penyemangat. Namun, lebih dari itu, penulis berharap suatu hari nanti, negeri ini belajar menghargai prestasi dengan lebih dewasa dan beradab.
Bukan demi gengsi. Bukan demi pamer. Melainkan demi membangun ekosistem pendidikan yang memuliakan ilmu, menghormati waktu, dan menjadikan prestasi sebagai investasi peradaban. Karena jika penghargaan hanya berhenti pada tepuk tangan, maka jangan heran jika banyak insan terbaik memilih berjalan sendiri—tetap berkarya, meski tanpa panggung dan tanpa janji apa-apa. Dan mungkin, bagi sebagian pemimpin daerah, tepuk tangan memang sudah cukup. Sungguh miris!***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!