VISI | Penghargaan Tepuk Tangan
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
BELUM lama ini penulis mendapat kehormatan yang—jujur saja—membahagiakan. Diundang langsung oleh pemimpin daerah sebagai tamu kehormatan, sebuah penanda bahwa kerja panjang di dunia pendidikan rupanya dianggap memiliki arti. Dalam undangan tertulis jelas: penulis diundang karena dipandang telah mengharumkan nama wilayah melalui capaian sebagai Guru Inspiratif Internasional, dengan puluhan buku dan ratusan artikel yang telah terbit dan dibaca lintas negara.
Tentu, bagi seorang guru, undangan semacam ini bukan perkara kecil. Ia bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan bahwa kerja sunyi di ruang kelas, di depan buku, di balik layar literasi, ternyata sampai juga ke telinga pemangku kebijakan. Maka penulis datang dengan penuh rasa syukur, menghormati undangan yang tertera rapi: acara dimulai pukul 08.00 WIB.
Namun, waktu rupanya punya kisah lain. Pukul 08.00 berlalu. 09.00 menyusul. 10.00 datang tanpa tanda. Para undangan mulai saling pandang, tersenyum kecut, lalu menghela napas panjang. Hingga akhirnya, pemimpin daerah yang dinanti baru hadir pukul 12.00. Empat jam keterlambatan yang diterima dengan kalimat klasik: “Sudah biasa.”
Di situlah rasa miris perlahan mengendap. Bukan semata karena menunggu, melainkan karena tidak ada rasa bersalah. Tidak ada permohonan maaf yang sungguh-sungguh. Tidak ada kesadaran bahwa di ruangan itu hadir peserta didik yang sejak pagi telah siap tampil, guru-guru yang meninggalkan kelasnya, dan tamu kehormatan yang datang dengan niat baik.
Ironisnya, keterlambatan semacam ini seolah telah menjadi bagian dari budaya kekuasaan. Waktu milik rakyat dianggap lentur, sementara waktu pemimpin seakan berada di atas segalanya. Padahal, bukankah waktu adalah pelajaran paling dasar yang diajarkan sekolah kepada anak-anak? Bahwa disiplin adalah bentuk penghormatan paling sederhana.
Acara akhirnya dimulai. Penyerahan penghargaan berlangsung khidmat. Nama penulis dipanggil, disebut sebagai Guru Inspiratif Tingkat Internasional. Tepuk tangan bergemuruh. Ruangan terbuka menggema. Hadirin berdiri, wajah-wajah menoleh, sorot mata tertuju ke satu arah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!