VISI | "Ndableg" Dunia Pendidikan!
Oleh Drajat
DI TENGAH semangat besar bangsa ini memperjuangkan transformasi pendidikan melalui berbagai kebijakan kurikulum dan digitalisasi pembelajaran, diam-diam dunia pendidikan kita sedang mengalami sebuah penyakit akut yang mulai mengakar—budaya mundur. Bukan hanya stagnasi, tetapi kemunduran sistemik yang dipicu oleh kepemimpinan pendidikan yang tidak berkualitas, tidak beretika, dan dalam banyak hal, tidak tahu diri.
Ketika kita berbicara soal kualitas pendidikan, seringkali sorotan dilemparkan pada guru, siswa, atau fasilitas. Namun, kita lupa bahwa akar dari banyak masalah justru bersumber dari pemimpin pendidikan yang duduk di pucuk-pucuk struktural tanpa bekal kapabilitas. Mereka hadir bukan karena rekam jejak, bukan karena pengalaman memimpin lembaga pendidikan, tetapi karena kedekatan, tekanan politik, atau bahkan karena membeli jabatan. Maka tak heran, semakin ke sini kita menyaksikan wajah pendidikan yang buram: sekolah tidak berkembang, guru tidak dihargai, dan sistem berjalan tanpa ruh.
Bahasa ini mungkin terdengar keras. Tapi realitasnya jauh lebih keras dari ungkapan tersebut. Di lapangan, kita temukan kepala sekolah atau pejabat pendidikan yang “ndableg”—keras kepala, anti kritik, dan menolak belajar. Mereka merasa cukup hanya dengan jabatan struktural, padahal sejatinya tak memiliki kapasitas substantif untuk mengelola lembaga pendidikan. Bahkan tak jarang, mereka tidak mampu membedakan mana tugas strategis, mana tugas administratif, mana tugas membina, dan mana yang semestinya didelegasikan.
Yang lebih menyedihkan, mereka memperlakukan guru dan tenaga kependidikan layaknya “pekerja kasar”. Dalihnya, semua tugas sudah menjadi beban kerja, tidak ada lagi honor atau insentif tambahan, dan setiap penolakan dianggap pembangkangan. Padahal, relasi di dunia pendidikan bukanlah relasi kuasa, melainkan relasi kolegial: pemimpin dan guru adalah mitra yang seharusnya bekerja dalam semangat kolaborasi dan saling menghormati.
Akibat kepemimpinan yang tidak visioner, banyak sekolah akhirnya jalan di tempat. Tidak ada inovasi pembelajaran, tidak ada peningkatan kualitas guru, tidak ada jejaring kemitraan, dan bahkan tidak ada program strategis jangka panjang. Rapat hanya menjadi rutinitas tanpa makna, laporan hanya jadi formalitas, dan hubungan antar warga sekolah terasa kering—bahkan kadang penuh ketakutan. Guru takut bicara, takut berbeda pandangan, apalagi mengkritik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!