VISI | Nakal itu Asyik
Anak yang “nakal” karena berani mempertanyakan sesuatu, sebenarnya sedang belajar berpikir kritis. Anak yang “melanggar” karena ingin mencoba cara baru, sedang belajar berinovasi. Anak yang “berdebat” dengan gurunya, sedang belajar komunikasi dan argumentasi.
Sayangnya, masih banyak guru atau lembaga pendidikan yang alergi terhadap kenakalan semacam ini. Akibatnya, sekolah menjadi tempat membungkam, bukan ruang tumbuh. Padahal, justru dari ruang-ruang “nakal” itulah kreativitas bermula.
Bagaimana cara menumbuhkan kenakalan yang sehat di sekolah maupun kampus? Pertama, dengan memberikan kepercayaan. Guru dan dosen perlu memberi ruang bagi siswa atau mahasiswa untuk mengambil keputusan, mencoba hal baru, bahkan melakukan kesalahan.
Kedua, memberi teladan tanggung jawab. Nakal tanpa tanggung jawab hanya akan menimbulkan kekacauan. Tapi nakal yang diikuti dengan keberanian mengakui kesalahan akan melatih kedewasaan moral.
Ketiga, membangun komunikasi yang terbuka. Jika peserta didik berani bicara jujur tanpa takut dihukum, maka setiap kenakalan bisa menjadi bahan pembelajaran bersama, bukan sekadar pelanggaran.
Keempat, menjadikan guru sebagai sahabat belajar. Ketika hubungan guru-siswa terjalin hangat, kenakalan justru menjadi tanda tumbuhnya rasa percaya, bukan bentuk perlawanan.
Ketika perkuliahan hari itu berakhir, seorang mahasiswa mendekati penulis dan berkata,
“Pak, ternyata benar ya, nakal itu asyik. Tapi yang lebih asyik lagi, ternyata dari nakal kita bisa belajar jadi manusia yang lebih dewasa.”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!