VISI | Nakal itu Asyik
Oleh Drajat
BELUM lama ini, penulis mendapat kehormatan menjadi dosen tamu di sebuah perguruan tinggi bergengsi di Bandung. Undangan itu membuat penulis antusias bukan main. Setelah puluhan tahun menjadi guru di sekolah menengah, rasanya menyenangkan bisa berbagi pengalaman langsung di hadapan para mahasiswa calon pendidik.
Namun yang membuat suasana kuliah hari itu benar-benar hidup adalah kalimat pembuka dari dosen utama, seorang profesor senior yang terkenal dengan gagasan-gagasan nyentriknya. Dengan senyum ringan, beliau berkata,
“Mari kita mulai perkuliahan hari ini dengan satu kalimat: Nakal itu asyik!”
Sontak ruangan yang semula hening mendadak bergemuruh oleh tawa dan tepuk tangan mahasiswa. Kalimat itu seolah memantik semangat semua yang hadir, termasuk penulis.
Ya, nakal itu asyik. Tapi tentu bukan “nakal” dalam arti negatif — bukan nakal yang merugikan, melawan, atau membangkang tanpa arah. Nakal yang penulis maksud adalah nakal yang bertanggung jawab, sebuah kenakalan yang justru menumbuhkan kreativitas, keberanian, dan kedewasaan berpikir.
Sebagai guru yang telah puluhan tahun bergelut di dunia pendidikan, penulis sering menjumpai peserta didik yang dikenal “nakal”. Mereka tidak mudah diatur, sering berdebat, kadang melanggar batas, dan membuat guru kesal. Tapi seiring waktu, penulis menyadari bahwa dari kelompok inilah sering lahir anak-anak yang paling kreatif, berani, dan berjiwa pemimpin.
Suatu hari, penulis “menantang” para pengurus OSIS — siswa-siswa yang dikenal paling tertib, pintar, dan hampir tanpa cela. Tantangannya sederhana: pada upacara bendera berikutnya, jangan pakai topi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!