VISI | Nakal itu Asyik
Tentu saja mereka kaget. Ada yang tersenyum ragu, ada pula yang langsung menolak.
“Pak, itu kan melanggar aturan sekolah,” kata salah seorang dengan nada gugup.
Penulis hanya menjawab, “Betul. Tapi kalau kalian lupa membawa topi, lalu dengan jujur meminta maaf dan menjelaskan alasannya kepada guru, apakah itu salah?”
Mereka terdiam. Penulis lanjutkan, “Yang salah bukan tidak memakai topi. Yang salah adalah ketika kalian tidak jujur, bersembunyi, atau berbohong. Nakal itu boleh, asalkan bertanggung jawab.”
Keesokan harinya, tidak satu pun dari mereka berani mencoba. Mungkin bukan karena takut dimarahi, tetapi karena selama ini mereka terbiasa berpikir bahwa ketaatan adalah segalanya, sementara ruang untuk bereksperimen, mencoba, bahkan keliru, seolah tidak punya tempat.
Padahal, pendidikan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi kenakalan yang bertanggung jawab. Dari sanalah tumbuh keberanian untuk berbuat, berinovasi, dan belajar dari kesalahan.
Prinsip yang sama berlaku di dunia perkuliahan. Dalam pandangan penulis, mahasiswa yang “nakal” — yakni mereka yang berani bertanya, menggugat, mengkritisi, bahkan menggoda dosen dengan pertanyaan tajam — justru menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi.
Perkuliahan akan lebih hidup jika mahasiswa berani berpikir di luar kebiasaan. Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan lahir dari keberanian mempertanyakan hal-hal yang dianggap pasti.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!