VISI | Nakal itu Asyik
Saat itu mengajar di kelas pascasarjana, di mana sebagian mahasiswa sudah berprofesi sebagai guru, kepala sekolah, bahkan dosen. Dalam sesi diskusi, penulis mendorong mereka untuk nakal secara akademik: mempertanyakan teori yang penulis sampaikan, menantang pendapat penulis, bahkan membantah dengan data atau pengalaman lapangan.
Hasilnya? Kuliah menjadi hidup. Dosen dipaksa belajar lebih dalam, mahasiswa semakin kaya perspektif, dan suasana intelektual tumbuh dengan sehat.
“Nakal itu asyik,” begitu kesimpulan mereka di akhir sesi. Asyik karena memicu dialog, membuka cara pandang baru, dan menghadirkan keberanian untuk berbeda.
Kita hidup di zaman di mana kepatuhan sering dijadikan ukuran utama. Padahal, kemajuan tidak lahir dari kepatuhan semata, melainkan dari keberanian untuk melampaui batas-batas kebiasaan.
Lihatlah sejarah. Banyak penemu besar dunia berawal dari “kenakalan” berpikir: menolak yang dianggap mapan, mempertanyakan otoritas, dan mencoba jalan lain yang tak biasa. Mereka “nakal” karena tidak mau berhenti pada jawaban yang sudah ada.
Begitu pula di sekolah. Jika peserta didik selalu takut salah, takut melanggar, takut bertanya — maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif, bergantung, dan kehilangan daya cipta.
Maka, tugas guru bukan sekadar menertibkan, tapi menyalurkan kenakalan itu menjadi energi positif. Guru bukan hanya penjaga aturan, tapi pembimbing dalam menemukan arah kebebasan berpikir yang bertanggung jawab.
Dalam praktiknya, “nakal” sering dimaknai sebagai lawan dari “baik.” Padahal, di dunia pendidikan, keduanya bisa berjalan beriringan. Seorang siswa yang baik tidak harus selalu patuh tanpa berpikir. Ia boleh menentang jika merasa ada yang tidak adil, asalkan dengan cara santun dan beralasan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!