VISI | "Muka Badak" Pemimpin Pendidikan
Ketika kekuasaan tidak lagi dipandang sebagai amanah, ia akan berubah menjadi alat. Alat untuk memperkaya diri. Alat untuk menguntungkan keluarga. Alat untuk memperkuat jaringan kolega. Fenomena ini bukan lagi rahasia umum. Berita tentang korupsi, penyalahgunaan anggaran, hingga praktik nepotisme hampir setiap hari muncul di media. Yang lebih mengkhawatirkan, perilaku ini juga merembes ke sektor pendidikan.
Padahal pendidikan seharusnya menjadi benteng terakhir moral bangsa. Namun ketika pemimpin pendidikan ikut larut dalam budaya kekuasaan yang pragmatis, maka pendidikan kehilangan wibawanya sebagai institusi pembentuk karakter. Anak-anak melihatnya.
Siswa menyaksikannya. Guru merasakannya. Dan pelajaran yang mereka terima bukan lagi tentang kejujuran, melainkan tentang bagaimana kekuasaan dapat digunakan tanpa rasa malu.
Banyak pihak sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Sebuah visi besar bahwa Indonesia akan memiliki generasi unggul yang mampu membawa bangsa ini menjadi negara maju. Gagasan ini tentu sangat mulia. Namun pertanyaan yang perlu diajukan dengan jujur adalah: apakah perilaku para pemimpin hari ini mendukung terwujudnya generasi emas itu?
Anak-anak belajar bukan hanya dari buku pelajaran. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat di sekitar mereka. Jika mereka melihat pemimpin yang jujur, mereka belajar tentang kejujuran. Jika mereka melihat pemimpin yang berintegritas, mereka belajar tentang tanggung jawab. Tetapi jika yang mereka lihat adalah pemimpin yang sibuk mengumpulkan kekayaan pribadi, yang tidak lagi peduli pada batas halal dan haram, maka pelajaran apa yang sebenarnya sedang mereka terima?
Generasi emas bisa berubah menjadi generasi cemas. Cemas melihat masa depan bangsa. Cemas terhadap krisis moral yang terjadi di depan mata mereka.
Ironi Penghargaan bagi Guru
Ironi lain yang sangat menyakitkan dalam dunia pendidikan adalah bagaimana negara memperlakukan para guru yang berprestasi. Tidak sedikit guru Indonesia yang berhasil mengharumkan nama daerah bahkan nama bangsa di tingkat internasional. Mereka berinovasi dalam pembelajaran, mengembangkan metode kreatif, dan menginspirasi ribuan siswa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!