VISI | "Muka Badak" Pemimpin Pendidikan
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis Transformasi Indonesia
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu ungkapan yang sering muncul dalam percakapan masyarakat ketika melihat perilaku sebagian pemimpin negeri ini: “muka badak.”
Istilah itu bukan sekadar kiasan kasar. Ia lahir dari kegelisahan publik yang semakin hari semakin sulit dibantah. Ketika janji diucapkan dengan penuh keyakinan saat kampanye, tetapi dilupakan begitu saja setelah kursi kekuasaan diduduki. Ketika kata-kata manis tentang keberpihakan kepada rakyat berubah menjadi kebijakan yang justru menyakitkan rakyat.
Ironisnya, fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu dua orang pemimpin. Ia tampak menjalar dari pusat hingga daerah, dari ruang-ruang kekuasaan politik hingga lembaga-lembaga yang seharusnya menjadi penjaga moral bangsa: dunia pendidikan. Padahal pendidikan adalah tempat lahirnya nilai, karakter, dan peradaban. Namun ketika pemimpin pendidikan sendiri kehilangan rasa malu, maka kita patut bertanya dengan serius: sedang dibawa ke mana arah pendidikan negeri ini?
Setiap musim pemilihan, masyarakat selalu disuguhi janji-janji yang begitu indah. Para calon pemimpin datang dengan bahasa yang menyejukkan hati rakyat. Mereka berbicara tentang kesejahteraan guru, tentang kemajuan pendidikan, tentang masa depan anak-anak bangsa. Semua terdengar begitu meyakinkan. Guru akan diperhatikan. Sekolah akan diperbaiki. Kesejahteraan tenaga pendidik akan ditingkatkan. Namun setelah kursi kekuasaan berhasil diraih, kenyataan sering berbicara sebaliknya. Janji tinggal janji.
Program yang dulu dielu-elukan perlahan menghilang dari agenda prioritas. Perhatian terhadap pendidikan menjadi sekadar slogan dalam pidato seremonial. Yang lebih menyedihkan lagi, sebagian pemimpin tampak tidak memiliki rasa malu ketika mengingkari janji yang pernah mereka ucapkan sendiri. Di sinilah istilah “muka badak” menemukan maknanya. Bukan sekadar keras kepala, tetapi kehilangan sensitivitas moral terhadap tanggung jawab yang diemban.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!