VISI | Merawat Indonesia

ED
Jumat, 5 September 2025 | 05:12 WIB
Bagikan
VISI | Merawat Indonesia

Oleh Drajat

NEGERI ini semakin hari semakin menangis, ibarat anak ayam kehilangan induk. Di jalanan, suara rakyat kerap terwakili lewat aksi-aksi demonstrasi; beberapa orang gugur, banyak yang terluka, meninggalkan duka dan kesedihan. Namun, solusi yang ditawarkan pemerintah sering kali belum menyentuh inti persoalan. Birokrasi tersandera kepentingan, kebijakan acap kali sekadar tambal sulam, sementara masalah struktural bangsa tetap menganga.

Dalam situasi porak-poranda ini, guru dan dosen, para pendidik, kembali dituntut memainkan perannya sebagai pelita di tengah kegelapan. Ki Hajar Dewantara sejak lama menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga budi pekerti, pembentukan karakter, dan pengasuhan jiwa kebangsaan. Oleh karena itu, “merawat Indonesia” tidak cukup berhenti pada jargon politik, tetapi harus diwujudkan dalam kerja kolektif, terutama lewat pendidikan, untuk mengantar generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang kompleks. Pertama, korupsi yang terus merongrong sendi bangsa. Kasus-kasus korupsi dana pendidikan, misalnya, menorehkan luka mendalam: bagaimana mungkin dana yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa justru digerogoti oknum yang mengatasnamakan birokrasi? Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat, dalam satu dekade terakhir, korupsi di sektor pendidikan masuk lima besar kasus yang ditangani.

Kedua, kualitas sumber daya manusia (SDM) kita masih memprihatinkan. Survei PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat bawah dalam literasi membaca, matematika, dan sains di antara negara-negara OECD. Literasi bukan hanya soal membaca teks, tetapi juga membaca realitas sosial. Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, menegaskan bahwa literasi sejati adalah kesadaran kritis (conscientização), yakni kemampuan manusia memahami realitas sosialnya untuk kemudian bertindak mengubahnya.

Sayangnya, banyak anak bangsa yang masih menjadi “konsumen pengetahuan” alih-alih “produsen gagasan.” Sekolah dan universitas sering hanya menyiapkan tenaga kerja, bukan manusia merdeka yang berpikir kritis. Nurcholish Madjid pun mengingatkan, pendidikan harus melahirkan manusia berakhlak mulia, bukan sekadar manusia yang cerdas secara teknis.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.