VISI | Merawat Indonesia
Oleh Drajat
NEGERI ini semakin hari semakin menangis, ibarat anak ayam kehilangan induk. Di jalanan, suara rakyat kerap terwakili lewat aksi-aksi demonstrasi; beberapa orang gugur, banyak yang terluka, meninggalkan duka dan kesedihan. Namun, solusi yang ditawarkan pemerintah sering kali belum menyentuh inti persoalan. Birokrasi tersandera kepentingan, kebijakan acap kali sekadar tambal sulam, sementara masalah struktural bangsa tetap menganga.
Dalam situasi porak-poranda ini, guru dan dosen, para pendidik, kembali dituntut memainkan perannya sebagai pelita di tengah kegelapan. Ki Hajar Dewantara sejak lama menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga budi pekerti, pembentukan karakter, dan pengasuhan jiwa kebangsaan. Oleh karena itu, “merawat Indonesia” tidak cukup berhenti pada jargon politik, tetapi harus diwujudkan dalam kerja kolektif, terutama lewat pendidikan, untuk mengantar generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang kompleks. Pertama, korupsi yang terus merongrong sendi bangsa. Kasus-kasus korupsi dana pendidikan, misalnya, menorehkan luka mendalam: bagaimana mungkin dana yang seharusnya mencerdaskan kehidupan bangsa justru digerogoti oknum yang mengatasnamakan birokrasi? Data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat, dalam satu dekade terakhir, korupsi di sektor pendidikan masuk lima besar kasus yang ditangani.
Kedua, kualitas sumber daya manusia (SDM) kita masih memprihatinkan. Survei PISA (Programme for International Student Assessment) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat bawah dalam literasi membaca, matematika, dan sains di antara negara-negara OECD. Literasi bukan hanya soal membaca teks, tetapi juga membaca realitas sosial. Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed, menegaskan bahwa literasi sejati adalah kesadaran kritis (conscientização), yakni kemampuan manusia memahami realitas sosialnya untuk kemudian bertindak mengubahnya.
Sayangnya, banyak anak bangsa yang masih menjadi “konsumen pengetahuan” alih-alih “produsen gagasan.” Sekolah dan universitas sering hanya menyiapkan tenaga kerja, bukan manusia merdeka yang berpikir kritis. Nurcholish Madjid pun mengingatkan, pendidikan harus melahirkan manusia berakhlak mulia, bukan sekadar manusia yang cerdas secara teknis.
Pendidikan adalah ruang paling strategis untuk merawat Indonesia. Guru dan dosen bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga moralitas bangsa. Tugas mereka bukan sekadar mengajarkan rumus atau teori, melainkan menyalakan api kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.
Ki Hajar Dewantara menekankan konsep Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Dalam konteks “merawat Indonesia,” konsep ini relevan:
Ing ngarsa sung tuladha: pemimpin bangsa harus memberi teladan moral, bukan sekadar retorika politik.
Ing madya mangun karsa: masyarakat sipil, termasuk pendidik, harus menjadi penggerak perubahan sosial.
Tut wuri handayani: generasi muda harus didukung penuh untuk mengembangkan potensi dirinya.
Namun, pendidikan tidak boleh berjalan sendiri. Ia harus didukung sistem politik yang bersih, birokrasi yang transparan, serta budaya masyarakat yang menjunjung nilai-nilai integritas. Tanpa itu semua, pendidikan hanya akan menjadi “panggung sandiwara” yang melahirkan ijazah, bukan karakter.
Menuju 2045, Indonesia menargetkan menjadi negara maju dengan kualitas SDM unggul. Tetapi, apakah mungkin itu tercapai jika persoalan mendasar dibiarkan? Negeri ini butuh perawatan serius.
Pertama, merawat dari luka korupsi – Penegakan hukum harus tegas tanpa pandang bulu. Dana pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sosial tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan elit.
Kedua, merawat literasi dan kesadaran kritis – Sekolah dan kampus harus menjadi ruang dialog, bukan hanya ruang hafalan. Literasi harus dipahami sebagai kekuatan membebaskan, seperti ditekankan Paulo Freire.
Ketiga, merawat budaya dan spiritualitas bangsa – Indonesia tidak boleh kehilangan jati dirinya. Globalisasi harus disaring dengan nilai Pancasila, sebagaimana diingatkan Nurcholish Madjid tentang pentingnya pendidikan moral.
Keempat, merawat demokrasi dan ruang publik – Demonstrasi dan suara rakyat harus dihargai sebagai energi koreksi bangsa, bukan ditekan dengan represi.
Negeri ini memang sedang menangis, namun tangisan itu tidak boleh menjadi tanda menyerah. Justru di saat luka sosial menganga, kita semua—terutama pendidik—wajib hadir sebagai pengasuh dan perawat. Merawat Indonesia berarti menyalakan kembali api harapan, memperkuat pendidikan sebagai fondasi, serta menegakkan keadilan sebagai tiang penyangga bangsa.
Jika kita mampu merawat Indonesia dengan hati dan komitmen kolektif, maka generasi 2045 tidak lagi menjadi “anak ayam kehilangan induk,” melainkan generasi emas yang berdaulat, cerdas, berkarakter, dan membawa bangsa ini berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara: “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.” Tugas kita hari ini adalah menuntun, menjaga, dan merawat kodrat bangsa Indonesia agar kelak tumbuh menjadi bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat.***
- Doktor Ilmu Pendidikan, Wasekjen Komnasdik, dan Hipnoterapis.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!