VISI | Melepaskan

Desi Rossilawati
Jumat, 17 Juli 2026 | 09:33 WIB
Bagikan
VISI | Melepaskan

Dalam dunia hipnoterapi, ada satu latihan sederhana yang sering penulis lakukan bersama klien. Latihan itu bukan sesuatu yang rumit. Tidak membutuhkan alat. Tidak membutuhkan tempat khusus. Hanya membutuhkan kesediaan untuk berhenti sejenak. Menarik napas perlahan. Lalu melepaskan. Melepaskan ketegangan. Melepaskan kemarahan. Melepaskan kecemasan. Melepaskan rasa ingin mengendalikan segala sesuatu. Dan justru pada saat seseorang mulai melepaskan, tubuhnya perlahan menjadi ringan. Pikirannya menjadi lebih jernih. Hatinya mulai damai. Mengapa? Karena sebagian besar penderitaan manusia lahir bukan dari keadaan. Tetapi dari keinginan untuk menggenggam segala sesuatu seolah semuanya milik kita.

Padahal, apa sebenarnya yang kita miliki? Rumah? Suatu hari akan kita tinggalkan. Jabatan? Ada masanya berakhir. Harta? Tidak satu rupiah pun ikut ketika manusia kembali kepada Allah. Tubuh ini? Kelak akan kembali menjadi tanah. Kalau demikian, mengapa kita begitu takut kehilangan? Mengapa kita begitu cemas terhadap sesuatu yang sejak awal hanyalah titipan? Al-Qur'an mengingatkan: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali." (QS. Al-Baqarah: 156). Ayat yang sangat singkat. Namun bila direnungkan, ia mengubah cara pandang manusia terhadap kehidupan. Kita bukan pemilik. Kita hanyalah penjaga.

Penulis sering mengatakan kepada peserta didik, "Kalau kalian meminjam buku di perpustakaan, apakah kalian boleh mencoret-coret sesuka hati?"

Mereka serempak menjawab, "Tidak, Pak."

"Lalu mengapa?"

"Karena itu bukan milik kami."

Begitulah kehidupan. Segala yang kita miliki hanyalah pinjaman. Anak adalah titipan. Kesehatan adalah titipan. Kekayaan adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Bahkan napas yang sedang kita hirup saat ini pun adalah titipan. Jika semuanya titipan, maka yang paling bijaksana adalah merawatnya dengan penuh tanggung jawab, bukan menggenggamnya dengan kesombongan.

Yang membuat manusia lelah sering kali bukan pekerjaannya. Melainkan rasa memiliki yang berlebihan. Kita ingin semuanya sesuai keinginan. Kita ingin semua orang memahami kita. Kita ingin keadaan berubah secepat yang kita harapkan. Padahal hidup tidak selalu berjalan demikian. Ada hal-hal yang berada dalam kendali kita. Ada pula yang bukan. Kita dapat memilih untuk jujur. Kita dapat memilih untuk bekerja dengan baik. Kita dapat memilih untuk mendidik dengan hati. Tetapi kita tidak dapat memaksa semua orang berpikir seperti kita. Di sinilah melepaskan menjadi sebuah kebijaksanaan. Bukan menyerah. Melainkan memahami batas antara ikhtiar dan takdir.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.